Selamat Datang

Sabtu, 06 Agustus 2016

Buku Antologi Puisi

Kali ini ada sejarah baru saya, yakni menulis puisi bersama dengan mereka yang diberi kemampuan menulis puisi

1. Keluh Senja Mengejar Cakrawala (4 penulis)


2. Sajak Embara (50 penulis)



Pusiku

Puisi karya Ujang Kasarung

Pada saat makan nikmat, ada sesuatu yang terlintas dalam pikiran, bagaimana jika makanan ini ada pada saat kita sedang sakit? Ah, tentu takan nikmat. Itulah sebabnya kita patut bersyukur saat diberi nikmat sehat. Jika kita lupa bersyukur saat sehat, nanti Alloh akan menyadarkan kita dengan diberi cobaan sakit. Nauzubillah.



Sabtu, 07 Mei 2016

KISI-KISI UJIAN NASIONAL BAHASA INDONESIA 2016






Puisi Menyorong Rembulan

MENYORONG REMBULAN

Gerhana rembulan hampir total
Malam gelap gulita
Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan
Cahaya matahari yang memancar ke rembulan
Tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi
Sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi

Matahari adalah lambang Tuhan
Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi
Yang semestinya dipantulkan oleh rembulan

Rembulan adalah para kekasih Alloh
Para Rasul, para Nabi, para ulama, para cerdik cendikia
Para pujangga, dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari
atau nilai-nilai Alloh untuk mendayagunakannya di bumi

Karena bumi menutupi cahaya matahari
Maka malam gelap gulita
Dan di dalam kegelapan
Segala yang buruk terjadi
Orang tidak bisa menatap orang lain secara jelas
Orang menyangka kepala adalah kaki
Orang menyangka utara adalah selatan
Orang bertabrakan satu sama lain
Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain
Atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain

Di dalam kegelapan
Orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah
Akan ke mana melangkah dan bagaimana melangkah?

Ilir ilir … kita memang sudah ngelilir
Kita sudah bangun, sudah bangkit
Bahkan kaki kita sudah berlari ke sana ke mari
Namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum
Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut
Namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita

Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik!
Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian, kenapa bukan kita yang maling!
Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya!
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan
Yakni melarangnya untuk menyesal dan bertobat!

Kita memperjuangkan anti penggusuran dengan cara menggusur!
Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan
Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana iblis
yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri

Siapakah selain setan, iblis, dan dajjal
Yang menolak husnul khotimah manusia
Yang memblokade pintu sorga yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka?

Sesudah ditindas kita menyiapkan diri untuk menindas!
Sesudah diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak!
Sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan!

Yang kita bangkitkan bukan pembaharuan kebersamaan
Melainkan asyiknya perpecahan!
Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan
Tapi menggelegaknya kecurigaan!
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan
Melainkan prasangka dan fitnah!
Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka
Melainkan rencana-rencana panjang menyelenggarakan perang saudara!

Yang kita kembangsuburkan adalah kebiasaan memakan bangkai
Saudara-saudara kita sendiri
Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta
Melainkan mempersempit dunia kita sendiri
Dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati

Pilihanku dan pilihanmu adalah
Apakah akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari
Sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya
Atau kita berfungsi menjadi rembulan
Kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat
Agar bisa kita dapatkan sinar matahari
Dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali ke bumi



(Emha Ainun Nadjib)

Minggu, 01 Mei 2016

GUGUR karya W.R. RENDRA



GUGUR
oleh: W.S. Rendra


Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belum lagi selusin tindak
maut pun menghadangnya

Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata:
"Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta.
Kita bukanlah anak jadah
karna kita punya bumi kecintaan
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya

Bumi kita adalah tempat pautan yang sah
Bumi kita adalah kehormatan
Bumi kita adalah jiwa dari jiwa

Ia adalah bumi nenek moyang
Ia adalah bumi waris yang sekarang
Ia adalah bumi waris yang akan datang

hari pun lengkap malam
Bumi berpeluh dan terbakar
karna api menyala di kota Ambarawa.

Orang tua itu kembali berkata:
"Lihatlah, hari telah fajar!
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya!

Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menancapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
maka ia pun berkata:
- Alangkah gemburnya tanah di sini!"

Hari pun lengkap malam
ketika ia menutup matanya


Minggu, 17 April 2016

Pulanglah, Nak!

Sekumpulan Puisi Bebas Ujang Nurochmat

Dalam kurun waktu yang tentu tidak sebentar, Alhamdulillah, akhirnya terwujud juga impian saya mengumpulkan puisi antara tahun 1980- 2015. Tentu ini bukan suatu yang istimewa bagi mereka yang sudah terbiasa menulis dan menerbitkan buku tetapi buat saya yang sehari-hari hanya menulis dan menulis tanpa terpikirkan ke arah penerbitan, tentu ini merupakan peristiwa istimewa.
Buku ini terdiri atas 210 halaman memuat 105 puisi dengan ilustrasi berupa haiku yang dibuat oleh saya sendiri. Buku ini hardcover dengan huruf judul yang timbul (embos). Diedit oleh Marry Rose di Taiwan, dan kuratornya Andi Maulana (Jakarta), serta Oetep Sutiana (Garut). Sementara Prolognya diisi oleh Drs. H. Muhammad Akil (Pemalang).
Keberanian saya membukukan/menerbitkan buku kumpulan puisi ini tentu bukan tanpa sebab, saya merasa termotivasi oleh dorongan sahabat-sahabat baik yang awam sastra maupun yang paham sastra. Mereka menyemangati dengan penuh kesungguhan. Dan akhirnya terbit juga. Terima kasih buat sahabat-sahabat yang mendukung! Salam dan doa baik.
Ujang Kasarung

JANTE ARKIDAM

Jante Arkidam
(Karya Ajip Rosidi)

Sepasang mata biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
Arkidam, Jante Arkidam

Dinding tembok hanyalah tabir embun
Lunak besi di lengkungannya
Tubuhnya lolos di tiap liang sinar
Arkidam, Jante Arkidam

Di penjudian, di peralatan
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam

Malam berudara tuba
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegadaian

Malam berudara lembut
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa

‘Mantri polisi lihat ke mari!
Bakar mejajudi dengan uangku sepenuh saku
Wedanan jangan ketawa sendiri!
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak rujibesi!’

Berpandangan wedana dan mantripolisi
Jante, Jante; Arkidam!
Telah dibongkarnya pegadaian malam tadi
Dan kini ia menari!’

‘Aku, akulah Jante Arkidam
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya
Batang pisang,
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat rujibesi’

Diam ketakutan seluruh kalangan
Memandang kepada Jante bermata kembang Sepatu

‘mengapa kalian memandang begitu?
Menarilah, malam senyampang lalu!’

Hidup kembali kalangan, hidup kembali Penjudian
Jante masih menari berselempang selendang

Diteguknya sloki kesembilanlikur
Waktu mentari bangun, Jante tertidur

Kala terbangun dari mabuknya
Mantripolisi berada di sisi kiri
‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’

Digisiknya mata yang sidik
‘Mantripolisi, tindakanmu betina punya!
Membokong orang yang nyenyak’

Arkidam diam dirante kedua belah tangan
Dendamnya merah lidah ular tanah

Sebelum habis hari pertama
Jante pilin ruji penjara
Dia minggat meniti cahya

Sebelum tiba malam pertama
Terbenam tubuh mantripolisi di dasar kali

‘Siapa lelaki menuntut bela?
Datanglah kala aku jaga!’

Teriaknya gaung di lunas malam
Dan Jante berdiri di atas jembatan
Tak ada orang yang datang
Jante hincit menikam kelam

Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali
Jante datang ke pangkuannya
  
Mulut mana yang tak direguknya
Dada mana yang tidak diperasnya?
Bidang riap berbulu hitam
Ruastulangnya panjang-panjang
Telah terbenam beratus perempuan
Di wajahnya yang tegap

Betina mana yang tak ditaklukkannya?
Mulutnya manis jeruk Garut
Lidahnya serbuk kelapa puan
Kumisnya tajam sapu injuk
Arkidam, Jante Arkidam

Teng tiga di tangsi polisi
Jante terbangun ketiga kali
Diremasnya rambut hitam janda bawahnya

Teng kelima di tangsi polisi
Jante terbangun dari lelapnya
Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
Berdegap langkah mengepung rumah
Didengarnya lelaki menantang:
‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’

‘Datang siapa yang jantan
Kutunggu di atas ranjang’

‘Mana Jante yang berani
Hingga tak keluar menemui kami?’

‘Tubuh kalian batang pisang
Tajam tanganku lelancip pedang’

Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap
Memandang hina pada orang yang banyak
Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
‘hei, lelaki matabadak lihatlah yang tegas
Jante Arkidam ada di mana?’

Berpaling seluruh mata kebelakang
Jante Arkidam lolos dari kepungan
Dan masuk ke kebun tebu

‘Kejar jahanam yang lari!’

Jante dikepung lelaki satu kampung
Dilingkung kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya

Keluar Jante yang sakti!’
Digelengkannya kepala yang angkuh
Sekejap Jante telah bersanggul
‘Alangkah cantik perempuan yang lewat
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’

‘Jante tak kusua barang seorang
Masih samar, di lorong dalam’

‘Alangkah Eneng bergegas
Adakah yang diburu?’

‘Jangan hadang jalanku
Pasar kan segera usai!’

Sesudah jauh Jante dari mereka
Kembali dijelmakannya dirinya

‘Hei lelaki sekampung bermata dadu
Apa kerja kalian mengantuk di situ?’

Berpaling lelaki ke arah Jante
Ia telah lolos dari kepungan


Kembali Jante diburu
Lari dalam gelap
Meniti muka air kali
Tiba di persembunyiannya.