Selamat Datang

Jumat, 01 Maret 2019

LAPORAN PERJALANAN


JALAN BUKANAGARA MEMANG PERLU DIBUKA OLEH NEGARA

Waktu saya masih kecil, saya suka mendengarkan riwayat perjuangan almarhum Bapak yang memang tentara. Tentang perjuangannya di Tasikmalaya, Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya. Ketika saya tanya bagaimana Bapak bisa bertugas di Subang Selatan, juga ia ceritakan. Saya tanyakan ini karena Bapak orang Banten. Salah satu kisahnya tentang peperangan di Bukanagara. Seru dan haru. Semoga saja tidak terjadi lagi. Saya juga mendengar betapa rimbanya hutan di sana. Orang Sunda mengatakan leuweung geledegan. Selain rasa takut akan mistis yang mungkin sengaja dibubui bapak dalam ceritanya, saya penasaran ingin tahu seperti apa Bukanagara. Itu sekitar tahun 1970. Ayah wanti-wanti agar saya tidak nekat pergi ke sana. Tentu saja saya mematuhi larangan itu, bukan karena takut di jalan yang hutan banyak harimau dan sebagainya, karena waktu itu, generasi saya, kelas 6 SD sudah berani pergi jauh, tetapi amarah Bapak memang menyeramkan.
Dan kini setelah hampir 50 tahun, ingat 50 tahun, saya mencoba pergi ke sana. Ternyata masih banyak yang melarang, hutannya angker, jalannya hancur, tidak ada destinasi yang menarik menjadi alasan mereka melarang. Tetapi saya tetap setia pada niat. Maka sehabis sholat Subuh, kami: saya, istri, anak sulung, sepupu (orang Kasomalang) dan sopir (Mas Agus) berangkatlah dari arah Cisalak. Begitu lepas jalan raya, masuk jalan kecil, kami sudah disambut lahan kuburan yang cukup luas. Jannya mulus sepanjang kuburan, namun selepas itu … Ternyata rusak parah. Suasana hutan sudah mulai terasa. Kami mematikan AC, dan membuka jendela kendaraan. Kesejukan hutan yang mulai menggeliat disapa mentari yang mengintip di celah bukit menyapa ke dalam kabin. Sepanjang jalan tak henti-hentinya kami mengagumi pepohonan yang tinggi besar menjulang. Terbayang umurnya. Sayang ada beberapa sampah plastik peninggalan para pelintas yang kurang mencintai alam. Sesekali kami berhenti untuk memotret keindahan, dan juga selfi. Mas Agus mengeluhkan jalan, karena ia tidak menduga bila di zaman saiki di Pulau Jawa masih ada jalan seperti ini. Sesekali gardan atau body mobil menghantam batu atau bergesekan dengan jalan saat ban masuk kubangan atau lubang.
Rasa ingin pernah menapakkan kaki di tanah salah satu tempat Bapak berjuang, mengalahkan ketidaknyamanan badan yang terguncang. Sepanjang jalan hanya dua kali berpapasan dengan mobil lain dan dua kali dengan motor. Sepanjang jalur ini tentu selain udara sejuk, kami juga menikmati orkestra belantara dengan suara burung-burung hutan yang menyambut pagi. Gumpalan tanah bekas longsor menyisakan lumpur di jalan. Untungnya bebatuan sepanjang jalan membantu ban kendaraan tidak terjerembab. Dan di ruas jalur itu ada sebuah gua kecil. Kami sempat berfoto di sana. Dugaan saya, gua yang menurut informasi dibuat tahun 1930 itu merupakan kreasi pertahanan perang, atau mungkin begal yang menunggu pelintas lewat. Ini dugaan saja, dengan mengaitkan cerita Bapak bahwa tidak ada orang yang berani lewat jika malam sudah tiba. Tetapi berdasarkan perhitungan saya sepanjang jalan ini memang sepi. Saya kira jika ada penjahat, tak perlu buru-buru untuk merampok yang melintas. Selain mobil yang tak lebih dari 10 Km/jam, juga mau teriak mintya tolong kepada siapa? Memang ada di sana sebuah warung kopi. Penghuninya 1 orang lelaki, yang saat ditanya, bukan dari daerah itu. Orang sunda menyebutnya bubuaran. Warung itu sangat menolong pelintas. Dengan air yang jernih dan besar, pelintas yang akan ke kamar kecil atau sholat dapat dilakukan di sini,
Jika kendaraan kami berupa sedan ceper … kayaknya tidak akan bisa lewat di jalur ini. Padahal topografi jalan yang berada di ketinggian 1200 dpl itu cukup menguntungkan. Jalannya landai, nyaris datar dibandingkan dengan jalan akses dari Lembang/Cikole. Bahkan tebing-tebingnya kelihatan kokoh. Kokohnya selain karena berupa batuan, juga pepohonannya mencengkeram erat. Itu artinya, jika jalan ke Bukanagara ini diperbaiki, syukur jika diperlebar agar tidak menyulitkan mobil berpapasan, saya berkeyakinan, Bukanagara akan menjadi aset Kabupaten Subang yang potensial. Pemandangannya indah. Bukit-bukit dan gunung di sana, karena kami datang lebih pagi, masih diselimuti kabut yang memesona. Sayangnya kami hanya berhenti di gerbang masuk lokasi wisata Puncak Eurad.
Setelah itu perjalanan kembali sepi sekitar 1 jam lagi sampai pintu gerbang ucapan Selamat Datang di Cupunagara. Kampung yang terkenal dengan kopi Canggahnya ini terasa tenang, damai, dan sangat cocok untuk peristirahatan. Terbayang orang kota membeli lahan-lahan di sini untuk villa. Dan penduduk setempat jadi pedagang asongan atau jongosnya. Ah, semoga penduduk setempat tidak mudah ngiler lihat rupiah.
Sebenarnya akses ke Bukanagara dari tempat kami menginap yaitu di Kasomalang, ada dua arah, pertama dari Cisalak, 16.7 Km, dan dari arah Palasari 40.2 Km. Namun waktu tempuhnya kalau lewat Cisalak yang 16.7 Km waktu tempuh menurut Google 1 jam 16 menit. Sedangkan lewat Palasari yang 40.2 Km waktu tempuhnya 1 jam 45 menit! Waktu kami berangkat, pukul 05.30 dan tiba di Bukanagara pukul 08.00. itu terjadi karena akses jalan yang rusak. Saya mengimbau kepada Bupati Subang, ni, yang baru dilantik, atau Gubernur Jawa Barat, juga belum lama dilantik, yang kata sepupu saya pernah melintas di lokasi yang masih asri itu, please, Juragan, perbaiki jalan ke Bukanagara, sediakan SPBU di sana, beri kesempatan kepada warga di sana untuk menggeliat, mengelola wilayahnya menjadi lebih berkembang lagi. Hanya 16.7 Km, Pak! Tidak terlalu panjang untuk ukuran jalan penting mah.
Jika jalan ini sudah bagus, bisa jadi ini menjadi lintasan alternatif Bandung Majalengka, atau Sumedang. Jadi tidak perlu berkeluh kesah menghadapi kemacetan di Jalancagak. Saya sebagai salah satu anak bangsa yang lahir di kasomalang, sangat menyayangkan jika Bukanagara dibiarkan tidur tidak berkembang. Bukankah di sana ada banyak destinasi wisata? Saat kami datang kami melihat pabrik teh, gedung peninggalan Belanda, goa zaman old, bukit hamparan teh, hutan perawan dengan monyet yang masih liar. Konon ada juga danau dan lain-lain yang bisa dijadikan daya tarik wisatawan lokal. Malah traveling bisa menjadikannya satu paket dengan Pamoyanan, Monumen Ciseupan, Pabrik teh Kasomalang, dan kuliner di Pasar Kasomalang yang menyajikan makanan nostalgia ala Sunda.
Bukanagara 25 Desember 2018
Ujang kasarung

Rabu, 26 September 2018

LAPORAN MEMBACA BUKU PUISI

ADA TANGIS DI KLENTENG

Mengupas puisi
Klenteng Boen Tek Bio
karya Rini Intama

Oleh Ujang Kasarung

Sejarah, dengan tapak jejak peninggalannya, merupakan salah satu objek yang menarik untuk dijadikan sebagai sumber tema penulisan karya fiksi. Kita dapat eksplorasi di lingkungan kota sendiri. Hal demikian  telah dilaksanakan oleh penyair Rini Intama. Penduduk Tangerang ini mencoba menyusuri jejak sejarah dan budaya Tangerang lalu menuangkannya ke dalam bentuk karya sastra yaitu puisi. Puisi-puisi apiknya hasil kontemplasi dengan alam sejarah kotanya itu dibukukan dengan judul Kidung Cisadane. 
Salah satu puisi dalam buku tersebut berjudul Klenteng Boen Tek Bio. Membaca judulnya saja, kita sudah digiring ke wilayah pecinan. Penduduk Tangerang tentu hafal dan mahfum akan Klenteng bersejarah tersebut. Bagi pembaca yang belum tahu klenteng tersebut, jangan khawatir Rini Intama telah mendeskripsikan gambaran rumah ibadah tersebut dengan transparan dan apik. Untuk lebih jelasnya, mari kita baca puisi Klenteng Boen Tek Bio berikut!

Di jalan setapak Pasar Lama, sepanjang Cisadane
Klenteng megah bercampur aroma pasar dan asap hio
Lampion-lampion dan ribuan doa menggantung
Tuhan mengirimkan cahaya ! 

Di jalan setapak Pasar Lama, sepanjang Cisadane
Rumah doa tak pernah sunyi, lonceng tua berbunyi
Patung singa menjaga, suara-suara harapan bergema
Bercampur teriakan orang menjaja kue dan bunga 

Di depan altar, beberapa tetua menitikkan air mata
Seperti menunggu giliran mayatnya menjadi abu 
Mulut mereka komat kamit berdoa dan bercerita panjang
Soal jauhnya jarak antara dia dan sejarah 

Puisi yang terdiri atas 3 bait tersebut didominasi oleh deskripsi objek berdasarkan hasil pandangan mata. Pembaca tidak perlu bersusah payah melumat latar yang ditampilkan. Baik latar waktu, tempat, dan suasana disajikan tanpa bungkus. Jalan setapak Pasar Lama, sepanjang Cisadane bahkan diulang pada bait kedua, aroma pasar, asap hio, dan ciri khas klenteng ditampilkan dengan gaya sederhana. Tanpa perlu mendikte pembaca tentang suasana puisi tersebut. Jadi secara fisik, puisi itu, memang hanya itu.
Lalu apa yang dapat dipetik oleh pembaca jika demikian? Di sinilah maksud Martin Heidegger (Lukamata, Aspahani) bahwa puisi bukan saja sumber kenikmatan estetik, tetapi juga mendedahkan nalar "baharu". Nalar puitik, demikian Heidegger menyebutnya. Apa yang diharapkan Rini dari pembaca selain menyadari suasana lingkungan klenteng di Pasar Lama Tangerang tersebut? Bait pertama Rini mengangkat suasana fisik dengan tetap menghadirkan peranan Tuhan sebagai Pemilik Semesta, habluminalloh. Pada bait kedua Rini kembali menebar suasana fisik. Hanya pada bait ini Rini menghadirkan kehidupan masyarakat yang giat berjuang (berteriak menjajakan dagangan) sebagai objek dalam kesehariannya makhluk sosial, habluminanas. Dan pada bait ketiga Rini dengan gaya yang lembut menuntun pembaca menyadari bahwa manusia memiliki kepastian tentang "ajal". 
Rini benar-benar bijak mendedah nalar puitik. Ia tampilkan para orang yang sudah tua (jauh jaraknya dari sejarah). Mereka berkomat kamit berdoa di depan altar sambil menitikkan air mata. Entah air mata penyesalan, atau air mata ketakutan membayangkan mayatnya menunggu giliran dikremasi. Puisi ini selain apik secara fisik, juga bernas dalam makna.

Cikini, 26 September 2018

Sabtu, 12 Mei 2018

Puisi Hikayat Islam


UMAR

Dengan pedang terhunus
Dan sorot mata sebara gurun
Umar membawa geram
Pada Rosul, ia hendak menikam

Di sinilah sejarah Islam menunjukkan
Skenario Alloh yang tak kasatmata
Adalah Abdullah an-Nahham al-‘Adawi
Merajut langkah Umar bin Khattab
Menjelmakan doa Rosululloh

+    Hendak kemana engkau, ya, Umar?
-     Aku hendak membunuh Muhammad!
+   Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim
dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh?
-     Jangan-jangan engkau sudah meninggalkan
agama asalmu?
+   Maukah engkau kutunjukkan yang lebih
Mengagetkan dari itu, wahai Umar?
Sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu
Telah murtad dan meninggalkan agamamu!

Halilintar menggelegar
Amarah semakin berkobar
Dan takdir membelokkan niatnya

Lelaki gagah bermata api
Ke rumah sang adik bawa amarah
At Thaha mengalun menyambut
Sang ego yang nyanyikan api

Apa yang kamu baca, wahai Said?

Said bin Zaid, dan Fatimah binti Khattab bergetar
Juga Khabbab bin Art yang tengah berbagi ilmu

Wahai Umar, bagaimana jika kebenaran
Bukan berada pada agamamu?

Sebuah tendangan mengucurkan darah Said
Fatimah segera membangunkan suaminya
Umar menamparnya dengan keras
Darah mengucur dari wajah
Sejarah mencatatnya
Skenario Alloh tak kasatmata

Wahai Umar, jika kebenaran
bukan berada pada agamamu,
maka ‘aku bersaksi bahwa
tiada Tuhan yang berhak disembah
selain Alloh,
dan aku bersaksi bahwa
Nabi Muhammad adalah Rosululloh’.

Lelaki gagah bermata teduh
Setelah meluruhkan kotoran dan najis
Dari tubuhnya.
Segera membaca mushaf Al-Quran:
Bismillahirrahmanirrahim

Ini adalah nama yang indah dan suci

Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh,
tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku,
maka sembahlah Aku
dan dirikan Sholat untuk mengingat Aku*)

Betapa indah dan mulianya ucapan ini.
Tunjukkan padaku di mana Muhammad!

Skenario Alloh tak kasatmata
Tadi malam Rosul berdoa,
“Ya Allah, muliakanlah Islam
dengan salah seorang dari dua orang
yang lebih Engkau cintai;
Umar bin Khattab atau Amr (Abu Jahal) bin Hisyam”.

Lelaki gagah berselempang pedang
(Bahkan derap kudanya pun
Sanggup menggetirkan setan)
Bergegas menuju rumah Rosul

Lelaki gagah penyiksa kaum muslimin
Yang ditakuti lawan, disegani kawan
Berdiri mengetuk pintu
Para sahabat gemetar di dalam
Kecuali Hamzah bin Abdul Muthalib

+    Apa maksud kedatanganmu?
-     Mana Rosululloh?Aku hendak mengikuti ajarannya.

Serentak para sahabat mengucap hamdalah
Umar bin Khattab bersyahadat di hadapan Rosululloh
Lelaki gagah: Amirul Mukminin, Al Faruq
Pendekar yang dijanjikan Alloh
Menyinari sejarah Islam


Menteng, 26 November 2017





*) QS. At Thaha:14

Jumat, 08 Desember 2017

PERSIAPAN TRAVELING

PERSIAPAN TRAVELING YANG AMAN, NYAMAN, DAN MENYENANGKAN
Oleh: Ujang Nurochmat

Berwisata/traveling atau bahasa gaulnya nge-trip tentu dilakukan dalam rangka bersenang-senang. Nge-trip dapat dilakukan sendiri, bersama keluarga, atau rombongan. Agar tujuan bersenang-senang tercapai, tentu suasana kurang berkenan atau bikin bete sedapat mungkin dihindari. Triknya dengan cara memperhatikan penyebabnya. Adapun faktor penyebabnya lebih sering berasal dari diri sendiri di samping faktor alam, dan faktor sosial.
Faktor alam misalnya bencana dan cuaca, faktor sosial seperti keterlambatan transfortasi, kurang kordinasi, penipuan, kendaraan mogok, kecelakaan, macet lalu lintas, perubahan kebijakan dan lain-lain. Semoga tidak terjadi.
Sementara, faktor pribadi umumnya digolongkan menjadi dua. Pertama, sikap, dan kedua persiapan. Sikap seorang traveler akan berpengaruh terhadap suasana batin dirinya dan orang lain. Sikap kurang hati-hati, egois, sombong atau meremehkan penduduk lokal termasuk merendahkan pedagang, tidak sabaran, enggan antre, jorok, manja, lelet, buang sampah sembarangan, pelit, sampai makan pun ngumpet, eksis, tetapi Selfi bukan pada tempatnya. Tindakan tersebut selain terkesan norak, kadang mengancam nyawa. Ratu/raja update sehingga seperti pamer. Vandalisme, merusak alam, atau properti umum. Untuk itu, berusahalah menghindari sikap mental demikian.
Sedangkan secara fisik, kita harus menjaga kesehatan, hak istirahat bagi tubuh, mengonsumsi asupan atau nutrisi yang baik. Hindari makanan ekstrim, minumlah jika harus seperlunya, agar tidak beser. Begitu pula bagi yang tidak biasa sarapan, tidak perlu memaksakan diri. Bungkus saja untuk dimakan pada saatnya. Tidak asyik kan kalau sebentar-sebentar harus mampir di SPBU. Dan bagaimana jadinya jika panggilan alami itu datang saat berada di tempat yang tidak ada MCK? Hal lain yang tidak kalah pentingnya, hindari sikap over acting selama nge-trip, terutama bagi Anda yang tidak muda lagi. Umur tidak bisa dibohongi, asam urat, rematik, mudah capek, mudah lelah, daya tahan sudah tidak fit lagi.
Berikutnya yang perlu diperhatikan sebelum berangkat, kenali destinasi yang akan dikunjungi, berapa lama, naik apa, menginap di mana, menggunakan travel tidak, dengan siapa. Hal ini penting agar segalanya dapat berjalan dengan lancar, berhasil maksimal.
Adapun keberhasilan nge-trip lebih banyak ditentukan oleh persiapan. Apa saja yang perlu dibawa, jangan sampai ada yang diperlukan tidak terbawa, sementara yang tidak diperlukan malah terbawa.
A.      Peralatan
1.       Kabel rol
2.       Charger
3.       Powerbank
4.       Smartphone
5.       Kamera
6.       Earphone
7.       Senter
8.       Kompas
9.       Tongsis
10.   Pisau lipat
11.   Alat tulis
12.   Peralatan makan praktis
B.      Pakaian
1.       Pakaian kasual
2.       Pakaian basah-basahan/ renang
3.       Pakaian tidur
4.       Sarung
5.       Sajadah tipis
6.       Jaket
7.       Sarung tangan
8.       Kupluk
9.       Sandal antiselip
10.   Handuk
11.   Kaos kaki
12.   Sepatu nyaman
13.   Mantel hujan
C.      Kesehatan dan Keselamatan
1.       P3K pribadi
2.       Alat mandi
3.       Sunblock, autan, minyak angin
4.       Kacamata baca, kacamata hitam
5.       Selotip dan tali rafia
6.       Kantong keresek multifungsi
7.       Kartu identitas
8.       Kartu ATM
9.       Uang cash berbagai pecahan
10.   Tisu basah dan kering
11.   Gel antikuman
12.   Travel lock
D.      Makanan
1.       Roti tawar
2.       Air mineral
3.       Termos kopi
4.       Permen mint/ permen karet
Terakhir, semua itu adalah petunjuk standar. Tadi di atas sudah disarankan agar mengenali destinasi dan lamanya traveling. Maksudnya agar persiapan dapat disesuaikan. Misalnya, kalau wisatanya ke Singapura, tentu saja berbeda perlengkapan yang dibawa jika berwisata ke gunung. Begitu pula bagi Anda yang nonmuslim, tidak ada manfaatnya membawa sajadah.
Satu hal yang ingin saya tambahkan, bahwa di manapun kita berada, jangan melupakan fungsi kita sebagai hamba Alloh, Tuhan Yang Maha Esa.

Selamat menikmati traveling Anda, semoga berhasil.

Minggu, 15 Oktober 2017

Kata Pengantar Buku Kawin Perak

Romantika Kawin Perak
DIRO ARITONANG
Presiden HaikuKu Indonesia


Puisi adalah apa kata hati, keutuhan bentuknya menyentuh seluruh kehidupan manusia. Puisi dalam bentuknya memuat berbagai aspek dimensi kehidupan manusia. Ungkapan eksistensi manusia dalam kehidupannya, baik cinta dan kematian.
Lewat puisi manusia membawa kita kepada pemahaman atas nilai-nilai kehidupan dengan melibatkan kita untuk menyingkap keberadaan alam kehidupan ini dengan penciptanya. Puisi dapat mengkomunikasikan semua itu dengan Tuhan sebagai penciptanya.
Membaca buku Sepilihan Puisi “Kawin Perak” karya Ujang Nurochmat ini, kita dibawa larut dalam perjalanan memorial yang panjang selama 25 tahun, sejak ia mengucapkan “Ijab Kabul”:


Dengan bismillah
Kupetik kuntum bunga merekah
Mentari lembut merengkuh
Yang hangat melepas sauh
Bahtera cinta atas nama Sang Maha


Ungkapan puitik ini lahir pada Senin, 5 Oktober 1992 Pukul 10.00 di Jakarta hingga pada puisi terakhirnya “Kado Ulah Tahun” perkawinan peraknya selam 25 tahun:

Saatnya tak dapat kupungkiri
perasaan malu karena tak mampu
membungkus kado sepertimu
Sering coba kubungkus gairah
Seperti caramu melingkarkan lengan
Di leher dan bahuku

Sampai aku lupa sebait syair
Yang kusiapkan sejak subuh
Sebagai rasa terima kasih pada
Gayamu menghargai pengalamanku

-- Mau diulang?
+ Ini ulang tahunmu.
-- Aku sudah tua!
+ Kau perkasa.

Pucuk-pucuk suji menari pagi hari.



Ditulisnya puisi tersebut di kamar kita, Mentengjaya, Jakarta, 27 Juli 2017. Dapat dibayangkan puisi-puisi ini bak berbagai macam bunga yang tumbuh di halaman hati penyair yang diberikan pada istrinya tercinta Irmawati.
Jelas puisi pernikahan “Kawin Perak” ini identik dengan kebahagiaan. Ruang kebahagiaan yang sedang dialami oleh sepasang insan yang telah menempuh liku-liku kehidupan perkawinannya yang kaya suasana romantis.
Puisi-puisi jenis ini sudah banyak diciptakan para penyair besar, seperti puisi-puisi Kahlil Gibran dalam “On Marriage”, Juga WS Rendra dalam “4 Kumpulan Sajak”, Puisi-puisi Arifin C. Noer Buat Jajang dan banyak lagi penyair yang menulis romantika percintaan dan perkawinannya.
Menikah adalah dambaan setiap pasangan yang dimabuk asmara. Betapa tidak, pernikahan adalah pintu menuju kebersamaan yang halal secara agama serta resmi secara legal pemerintah. Ketika seseorang menikah, maka dari norma apapun, jiwa raga telah menjadi milik pasangan pengantin tersebut. Namun dalam perjalanan pernikahan tentu ada saja pertengkaran dan kesalahpahaman, namun semua itu bisa diatasi dengan saling pengertian dan rasa cinta yang mendalam di antara pasangan. Ujang Nurochmat menangkap dalam pemaknaan setiap liku-liku perjalanannya, seperti salah satu puisinya yang ditulis di Bromo, Malang:

KISAH KITA

Bromo memang memesona
Indahnya mengusik tanya
Mata pun berkaca-kaca
Seakan dalam pelukan nirwana

Aku takan membiarkan malam
menyekap mimpimu dalam gigil sunyi
aku di sampingmu seperti
hamparan pasir mengirim desir angin
pada hangat magmamu

Aku di sini menaksir-naksir
Gaya Tuhan menciptakanmu
Dengan pasir berbisiknya
Dengan bukit menyuburnya
Dengan kelebat anginnya

Aku di sini bersamamu, Kekasih
Mereka-reka kisah kita
Tentang gelegak magma
Atau semburat merah merona
Saat fajar nyatakan cinta

Sepilihan Puisi “Kawin Perak” karya Ujang Nurochmat ini sangat menarik untuk dibaca, yang akan menjadi hikmah bagi kita semua dalam menjalankan kehidupan kita berkeluarga, yang bisa bertahan selama 25 tahun yang sarat romantika bukanlah perjalanan yang mudah. Ini akan menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menjalankan realitas kehidupan ini. Semoga buku puisi ini akan bermanfaat bagi kita semua.


Akhir Agustus 2017



Bumi Adipra, Kota Bandung

Puisi Melawan Korupsi

DADDY
Oleh Ujang Kasarung

Seharusnya aku bangga jadi anakmu, Daddy
Kau tak mengizinkan kemiskinan menyentuhku
Aku bebas tinggal di rumah yang mana sesukaku
Dengan mami yang berbeda bahkan ada yang seusiaku

Seharusnya aku bangga jadi anakmu, Daddy
Teman-teman sekampus obral pujian untukku
Tentang kendaraan, penampilan, atau keluargaku
Aku tahu maksud mereka mengatakan itu

Seharusnya aku bangga jadi anakmu, Daddy
Rumah mewah, apartemen, atau vila
Di ibukota hingga dibukit nuansa wisata
Sampai kau lupa sedang tinggal di mana

Koleksi kendaraan tidak perlu ditanya
Bahkan showroom dan daelernya pun kita punya
Padahal jabatan Daddy hanya penanda tangan
Dan gunting pita pada bangunan atau jalan desa

Seharusnya aku bangga,
Tapi aku tidak!

Kau berompi orange digiring petugas KPK
Disambut puluhan shooter kamera
Dan pertanyaan para abdi berita dan kuli tinta

Gila,
Kau tersenyum sambil melambaikan tangan
Seperti seorang filantrop yang berjasa
Kau melangkah menuruni anak tangga
Memasuki mobil dengan pintu terbuka

Sekali lagi, kau tersenyum dan melambai tangan
Dari layar kaca padaku yang terbahak di kamar
Mungkin lambai terakhir atau senyum penghabisan
Dan kau, Daddy, apakah masih ingat cara bertobat.



Jakarta, 25 Maret 2017

Cerita Mini

KABAR

Kang Sabar agak ragu saat kakinya memasuki pekarangan rumah Mas Madraji. Di bawah pohon jambu batu yang sudah licin karena sering dipanjati anak-anak itu tampak Ida, Ratih dan teman-temannya sedang bermain tanah. Mbak Tarmi sendiri tidak tampak selain jemuran yang melintang dari pohon jambu tadi ke tiang bambu yang dibuat Mas Madraji beberapa waktu yang lalu.
Kang Sabar masih gelisah berdiri dekat patok bambu sisa pagar yang hampir habis diambili anak-anak atau pengembala kambing yang lewat. Pandangannya jauh melintasi pohon-pohon tebu yang belum tinggi. Pikirannya galau. Gemerisik daun-daun tebu menyapa hembusan angin. Matahari sesekali redup ditabiri awan. Tenggorokan Kang Sabar terasa kering walau hanya sekadar untuk meludah.
Kalau lagi di pabrik biasanya Mas Madraji suka perhatian. Dia akan menyodorkan botol mineralnya yang biasa digunakan membawa air the dari rumah. Kadang kalau kebetulan ada rezeki, Mas Madraji tidak segan-segan membelikan Kang Sabar dan Pardiman masing-masing sebungkus ancemon yang biasa dijual Mbok Darojah di bawah pohon kersen di depan gerbang pabrik.
Ida menyadari kehadiran teman bapaknya itu. Dia lama memerhatikan Kang Sabar. Ia merasa heran, biasanya Kang Sabar datang kalau bapaknya ada di rumah. Biasanya Kang Sabar suka langsung ke rumah tidak berdiri di sana. Patahan genting yang dipegangnya terjatuh. Lalu dipungutnya kembali.
“Kang Sabar!” tegur bocah 9 tahun itu sambil menggenggam pecahan genting. Ingusnya mengering di pipinya yang tembem.
Kang Sabar menoleh dan tersenyum lirih. Keraguan kian menggelayut membebani bahunya. Sehelai daun jambu kering luruh tertiup angin terus jatuh di kening gadis kecil yang masih berdiri di hadapan Kang Sabar.
“Bapak nggak ada!” serunya, ”Belum pulang!” tambah Ida. Tangannya menja-tuhkan pecahan genting itu ke atas tumpukan tanah yang tadi dibuat gunung-gunungan. Rupanya Ida langsung bermain sepulang sekolah seperti kebanyakan anak kampung Sukagenah, terlihat dari baju pramukanya.
“Ibu ada?” Kang Sabar mencoba mencari tahu.
Mungkin kalau Ida sudah besar, akan kaget mendengar pertanyaan teman bapaknya itu. Biasanya Kang Sabar akan langsung ke rumahnya. Tetapi Ida belum sejauh itu berpikir. Dia menjawab bahwa ibunya ada di rumah.
Kang Sabar tidak berhasil mendengar jawabannya. Anak itu sudah tenggelam lagi dalam keasikan bermain bersama teman-temannya. Sejenak Kang Sabar menoleh ke arah jalan. Debu warna coklat susu berputar-putar membentuk pusaran kecil seakan mengejar sebuah sepeda yang muncul dari fatamorgana. Sepeda yang dikayuh seseorang bercaping. Setelah sampai, Pardiman menghentikan sepedanya dengan ban depan persis di hadapan Kang Sabar.
Kang Sabar bergeming.
“Mbak Tarminya ada, ga?” tanya Pardiman dalam sengalan napas yang payah.
“Kamu aja, ya!” bujuk Kang Sabar, ”Aku ndak tega,” sahut Kang Sabar.
“Tadi katanya kamu sanggup. Tapi ya, sudah, aku juga ga apa-apa,” keluh Pardiman sambil menyenderkan sepedanya pada pohon nangka yang menaungi mereka. Sejenak Pardiman berdiri di samping sepedanya yang teronggok tak berdaya. Dengan capingnya dia kibas-kibaskan di depan dadanya mengusir rasa panas yang menyempurnakan musim kemarau kala itu. Perlahan pandangannya membawa hati Pardiman ke arah rumah Mas Madraji. Lalu berhenti. Kali ini matanya tak mampu menyembunyikan perasaannya saat Mbak Tarmi muncul.
“Bu, ada Kang Sabar!” seru Ida ketika melihat ibunya muncul dari samping rumahnya.
“Aih, kenapa pada berdiri di situ? Mari masuk. Bapak si Idanya mana?” tanya Mbak Tarmi heran karena biasanya mereka suka datang bertiga bersama suaminya.
Kang Sabar dan Pardiman saling menatap. Senyumnya yang baru saja dipamerkan tidak tampak lagi. Awan beriringan ke selatan. Dua ekor burung berkejaran di antara ranting pohon perdu yang meranggas di sisi kebun tebu.
Ya, kebun tebu satu-satunya sumber penghidupan penduduk kampung Sukagenah. Karena pabrik gulalah yang membuat jalan desa ini berkulit aspal walau kini sudah banyak terkelupas dan bergelombang. Malah nyaris sebagian sudah kembali menjadi jalan tanah seperti dulu.
“Man?”
Ada nada perintah dari kerongkongan Kang Sabar. Dia gamang mendengar tanya Mbak Tarmi. Dia tidak tahu harus menggunakan kata yang mana dan dengan cara bagaimana agar Mbak Tarmi tidak runtuh dengan berita yang akan disampaikan ini. Lututnya gemetar, Pardiman tidak sanggup lagi berdiri tegak. Ia limbung. Untungnya, sebelum terjatuh, dia segera jongkok, berpegangan pada watangan sepeda ontelnya. Matanya sudah mulai basah. Pardiman hanya memutar-mutar rantai sepedanya. Kang Sabar masih berpikir sambil meluruhkan kulit-kulit tua dari pohon nangka. Sementara Mbak Tarmi tampak membersihkan meja dengan taplak meja yang tak lagi utuh. Dua kursi kayu berdampingan dengan mejanya di teras berlantai tanah. Mbak Tarmi seperti biasa ramah kepada kedua sahabat suaminya itu.
Kang Sabar dan Pardiman bergelut dengan pikiran masing-masing. Sebagian jiwanya berada di antara kerumunan ratusan teman-teman buruhnya yang berteriak-teriak menyuarakan hati nuraninya. Dan bisa jadi demo buruh ini yang pertama terjadi di pabrik gula ini. Mereka terlalu nrimo akan kebijakan-kebijakan perusahaan yang kurang merakyat. Tetapi itupun tidak sepenuhnya merupakan kesalahan pihak manajemen. Pabrik gula ini terus merugi karena kalah saing dengan impor gula olahan yang awalnya diperuntukkan bagi perusahaan makanan, tetapi kenyataannya, diolah pula jadi gula konsumsi. Di sisi lain, pasokan bahan baku, berupa tebu kurang, sehingga jangankan untuk memperoleh keuntungan, untuk menutup biaya produksi saja tidak mencukupi. Dan kini, muncul ditandatanganinya SKB 4 Menteri. Hampir seluruh buruh pabrik di negeri ini turun ke jalan menyuarakan hati nurani. Sementara pihak manajemen tidak kalah persiapan, setelah kemarin melihat satpam perusahaan setengah hati menghalau pendemo, kali ini mereka menyewa preman dari kota. Bentrokan pun tidak terelakan.
Bekas genangan darah Mas Madraji di mulut gerbang pabrik justru menambah gelora semangat para buruh menuntut pembatalan SKB 4 Menteri itu. Bahkan bertambah anarkis ketika para preman bayaran pabrik kian bringas. Polisi mengamankan  beberapa pelaku dan saksi yang menghajar kepala Mas Madraji dengan balok, pentungan, atau linggis. Sedangkan Mas Madraji dilarikan ke Puskesmas oleh beberapa kawannya, di antaranya Kang Sabar dan Pardiman, namun jiwanya tidak tertolong.
Kang Sabar dan Pardiman hanya saling berpandangan bingung, padahal kabar kematian Mas Madraji yang kini terbaring di puskesmas kecamatan adalah milik Mbak Tarmi, Ida, dan Ratih. Angin kering menyapa hambar kepada mereka. Seekor kepodang melesat di antara gemerisik gesekan daun tebu.
Subang, 10 Desember 2008

U. Nurochmat