Selamat Datang

Rabu, 09 Juni 2010

MENGANALISIS NOVEL ATAU CERPEN

(untuk Pelajar SMP)

Dalam menganalisis novel atau cerpen, baik asli Indonesia maupun terjemahan, tidak perlu mengeriutkan kening karena memang tidak sulit. Syaratnya hanya mau membaca bukunya. Bagi yang rajin membaca, tentu saja membaca sebuah buku cerita merupakan keasikan tersendiri, terlebih jika tugas membaca buku cerita tersebut diberi kebebasan memilih bukunya. Sebaliknya, bagi siswa yang kurang suka membaca, tugas yang diberikan guru Bahasa Indonesia ini akan menjadi beban berat. Bisa jadi sebuah novel yang tebalnya di bawah 300 halaman akan selesai dibaca berbulan-bulan. Alangkah mengenaskan kondisi pelajar di negeri ini jika demikian.
Dalam wacana ini tentu saya tidak akan membahas soal kemalasan pelajar dalam membaca karena itu soal selera dan dampaknya hanya si pelajar itu sendiri yang merasakannya. Yang akan dikupas dalam Menganalisis novel atau cerpen ini adalah masalah pembelajarannya. Mengapa? Karena jika hal ini diketahui para pelajar, diharapkan hasil belajarnya dapat mencapai nilai maksimal.


Dalam kegiatan pembelajaran menganalisis novel atau cerpen (kadang-kadang Bapak/Ibu Gurumu menyebutnya mengapresiasi karya fiksi) aspek yang dibahas ada 2 (dua) yaitu: unsur ekstrinsik, dan unsur intrinsik. Dari kedua unsur tersebut, kegiatan pembelajaran lebih cenderung pada unsur intrinsik sesuai dengan tuntutan Kompetensi Dasar (KD). Adapun yang termasuk dalam unsur intrinsik adalah:

1. Tema/topik/gagasan utama, adalah sesuau yang menjiwai seluruh isi cerita. Tapi percayalah... bahwa dalam evaluasi pembelajaran definisi tidak akan ditanyakan. Yang penting kalian tahu hal apa yang diceritakan dalam novel tersebut. Untuk mengarah ke sana, pertanyaan yang paling tepat adalah,"Masalah apakah yang diceritakan dalam novel tersebut?"
Sedangkan bagi pemula yang ingin menulis prosa, sumber tema itu macam-macam, namun jika dikelompokkan akan menjadi 4 macam, yaitu: khayalan, pengalaman, pengamatan, dan opini/pendapat.

2. Amanat, adalah pesan yang disampaikan penulis melalui karyanya (baca: novel atau cerpen!). dalam sebuah cerita amanat yang disampaikan oleh penulis tentunya banyak. jadi bisa saja amanat itu muncul dari tiap kutipan secara tersurat atau secara tersirat.
Misalnya:

"Pak, tolong tidak merokok di lingkungan ini! Kasihan saudara-saudara kita yang tidak merokok,"dengan senyum Mas Anwar memohon pada Susilo yang begitu nyaman menikmati rokoknya di teras masjid sebelum Sholat Dzuhur dilakukan.
"Ah, Pak Anwar, merokok saja harus diatur." sergah Susilo sambil melemparkan rokoknya yang masih membara ke kecomberan.


Amanat yang terdapat dalam kutipan cerita tersebut adalah, para perokok harus memperhatikan kesehatan orang lain. jangan merugikan orang-orang di sekitarnya.

3. Latar/seting, adalah tempat, waktu, suasana (lahir-batin) situasi suatu peristiwa dalam cerita. Coba perhatikan penggalan peristiwa pada contoh di atas! Latar peristiwa itu adalah: di (teras) mesjid, siang hari, dalam suasana santai.

4. Penokohan, adalah gambaran tokoh yang ditampilkan penulis sebagai media penyampai pesan dengan cara menciptakan tokoh-tokoh yang mendukung pesan (protagonis), yang menentang pesan (antagonis), maupun yang berperan sebagai tokoh penengah (tritagonis).
Coba tunjukkan dalam penggalan cerita di atas yang berperan protagonis dan antagonis! Tahu kan? Kalau tidak tahu silakan telepon ke 911! Hehehe!

5, Perwatakan, sebenarnya perwatakan sama saja dengan membicarakan tokoh juga, hanya saja dalam perwatakan kupasan tokoh ditujukan untuk menguraikan bagaimana sih, watak tokoh tersebut? Apakah penyayang, tanggung jawab, jujur, pembohong, pembangkang, penakut dan sebagainya, tujuannya untuk mengetahui apakah watak tokoh tersebut mendukung isi cerita atau tidak. Bagaimana watak Anwar dan Susilo dalam penggalan cerita tersebut?
Perwatakan dilukiskan oleh penulis dengan berbagai cara:
a. melalui penggambaran fisik atau penampilan tokoh secara umum.
b. melalui reaksinya terhadap suatu persoalan yang ada dalam cerita.
c. melalui gaya bicaranya atau tingkah lakunya.
d. melalui pembicaraan tokoh lain.
e. melalui penampilan lingkungannya seperti tempat tinggalnya, tempat kerjanya, dsb.
f. melalui paparan penulis secara langsung tentang watak tokoh ceritanya.

6. Konflik, adalah benturan kepentingan atau harapan dalam cerita yang menimbulkan masalah bagi tokoh-tokohnya. Konflik merupakan pokok persoalan yang disampaikan oleh penulis denga teknik yang cerdas sehingga cerita menjadi menarik. Konflik bisa berupa:
a. konflik fisik/ragawi, adalah maalah yang menyangkut masalah raga/fisik. Misalnya, si tokoh terpaksa tidak menepati janji karena kakinya bengkak setelah terkilir.
b. konflik batin/rohaniah, adalah masalah yang dirasakan dalam hati si tokoh namun tidak diketahui tokoh lain. Misalnya merasa cemburu, jatuh cinta, sedih, dan lain-lain.
c. konflik sosial, adalah masalah akibat benturan kepentingan atau pandangan dalam hubungan sosial si tokoh dengan tokoh lain.
d. konflik alamiah, adalah masalah yang disebabkan oleh musibah, bencana alam, atau kondisi alam yang menghambat atau menjadi masalah bagi si tokoh.
Dalam penggalan cerita di atas, terdapat konflik sosial antara Pak Anwar dengan Susilo.

7. Sudut Pandang Pengarang, adalah cara penulis memosisikan diri terhadap cerita yang ditulisnya, apakah sebagai pelaku (orang I) atau sebagai pencerita/penonton (orang III). Pada penggalan cerita di atas, penulis memosisikan diri sebagai pencerita/penonton (orang III). Sudut Pandang pengarang dibagi menjadi:
a. Orang I pelaku utama
b. orang I pelaku sampingan
c. orang III serbatahu
d. orang III tidak serbatahu (pengamat)

8. Alur/plot, adalah jalan cerita yang terikat oleh waktu. Jalan cerita biasanya terdiri atas pengenalan, pertikaian, dan penyelesaian. Penulis tidak selalu mengawali ceritanya dengan pengenalan, bisa jadi dia mengawali ceritanya dengan penyelesaian, artinya masalah sudah diselesaikan baik secara menyedihkan, atau menggembirakan karena waktu dalam cerita bisa diurut sesuka penulisnya selama cerita tersebut jelas mana sebab dan mana akibat. Alur dibagi menjadi:
a. alur maju
b. alur mundur
c. alur campuran

9. Nilai kehidupan, adalah makna-makna baik tersirat maupun tersurat yang bisa diambil oleh pembaca yang dapat diterapkan dalam tingkah lakunya atau diyakini sebagai suatu nasehat, pendidikan terhadap perbaikan akhlak. Memang dalam membaca cerita baik novel ataupun cerpen ada 2 motivasi: 1, untuk dianalisis, dan 2. sebagai media rekreasi.
Tujuan menganalisis biasanya dilakukan oleh mereka yang akan mempelajari unsur-unsur cerita baik intrinsik maupun ekstrinsiknya, dan yang memiliki keinginan untuk menjadi penulis cerita. Alangkah naifnya jika ingin jadi penulis cerita, tetapi miskin selera membaca cerita.
Sedangkan yang bertujuan rekreasi, biasanya mereka membaca karena ingin menghibur diri, atau sekadar mengisi waktu.
Nilai kehidupan bisa berupa nilai moral, nilai agama, nilai sosial, nilai budaya, nilai pendidikan, nilai kesehatan, nilai kekeluargaan, nilai estetika, nilai etika, dan lain-lain.
Pada penggalan cerita di atas nilai kehidupan yang terkandung adalah nilai kesehatan.

Nah, anak-anak, semoga artikel yang sederhana ini dapat kalian manfaatkan untuk menambah wawasan atau pengetahuan kalian. dan semoga pula tulisan ini menjadi ladang amal untuk saya. karena bersedekah pengetahuan bisa jadi ladang amal yang pahalanya mengalir walau suatu saat saya sudah meninggal sekalipun. Bila perlu silakan di-copypaste saja dengan tetap memegang etika yaitu menyebutkan sumbernya, jangan malu-malu!

Selamat belajar.

U. Nurochmat
SMP Negeri 1 Jakarta

Pada siapa kuberlindung dari ajakan iblis laknat, jika bukan kepada-Mu.... ya, Robb!!!

Kuhormati ketulusanmu, apapun yang akan kau katakan.....

Kamis, 03 Juni 2010

MENAPAK JEJAKMU

oleh: U. Nurochmat

Ibu
Kali ini aku menulis puisi
Untukmu
Bukan untuk dinilai, kau bukan juri
Karena itu, Ibu
Aku mohon Ibu tidak melihat puisi ini bagus atau tidak
Tetapi lihatlah indah apa tidaknya

Ibu puisi ini hanya untuk mengisi acara
Saat Ibu melepas jubah kepala sekolah.
Di saat seperti ini, seharusnya aku sedih … tapi tidak!
Karena langkahmu bukan terusir
Dari pergaulan sosial yang multitafsir
Karena langkahmu bukan kalah
Menghadapi tantangan jaman yang penuh masalah

Ibu puisi ini hanya untuk mengisi acara
Saat Ibu meninggalkan ruang satu
Di saat seperti itu seharusnya aku sedih … tapi tidak!
Karena sepeninggalmu, ruang itu tetap satu
Dan penghuninya tetap nomor satu
Ruang itu akan setia mencatat satu demi satu kiprah Ibu di SMP Satu

Ibu, aku masih ingat kala hati merana
Ibu undang aku satu meja
Ibu usap gundahku dengan bijaksana
Ibu tuntun galau hatiku penuh kasih dan makna
Aku yakin juga pada yang lain

Ibu sambut bila aku manja
Ibu rengkuh bila aku rapuh
Ibu gapai bila aku capai
Ibu tersenyum bila aku melamun
Ibu bahagia saat aku ceria
Dan Ibu bangga bila aku berjaya

Namun
Ibu tidak marah bila aku nakal
Ibu hanya menunjukkan ke mana arah yang kekal
Ibu tidak melawan bila aku marah
Ibu hanya menasehati tentang hidup yang tabah
Ibu tidak mentang-mentang bila aku terlambat datang
Ibu tidak meradang bila aku tidak datang
Ibu hanya sirami kami dengan kesabaran yang matang

Ibu, maaf, aku tidak ingin memuji-mujimu
Karena segala puji untuk Yang Maha Terpuji
Aku juga tidak akan memuja
Karena segala puja bagi Rosul kita
Lagi pun walau tak dibesar-besarkan, Ibu sudah cukup besar
Karena itu aku tak akan menyebut-nyebut jasamu
Tabu bagiku!!!
Apa lagi di tempat umum seperti ini
Aku takut mereka takjub padamu
Aku tak ingin menyebut kalau Ibulah yang meng-ISO-kan SMP satu
Aku tak ingin menyebut kalau Ibulah yang meng-RSBI-kan SMP satu
Aku tak ingin menyebut kalau Ibulah yang meng-IT-kan SMP satu
Dan seabrek prestasimu di SMP Negeri ini.
Tidak akan … biarlah aku sendiri yang tahu.

Ibu aku tulis kata-kata ini untukmu
Siapa tahu bisa dijadikan bekal di perjalananmu
Karena aku tahu perjalananmu kian mendaki
Dan entah berapa kapan kita bisa sesawah bersama lagi
Sekebun berladang merumputi gulma bangsa
Dan entah berapa masa lagi kita bisa bertukar wawas
Seperahu mengarung gelombang jaman
Entahlah …

Aku berdoa semoga di tempat baru
Engkau tetap jadi pembaharu
Dalam semangat yang menderu
Jadikan kinerja bagai rekreasi seru

Aku kan selalu meneladani semangatmu
Dalam berkiprah menggali potensi memacu prestasi
Aku kan selalu menapak urai jejakmu
Dalam berjuang mengentas mutu menatar tradisi

Tuhan
Aku bersaksi di hadapanmu
Bila Ruliah Lestari adalah sosok panutan
Penyuluh kami di kala lemah
Penyantun kami di kala resah
Penopang kami di kala rebah
Pendorong kami di kala lelah

Tuhan
Berikan umur panjang baginya
Agar bisa menyaksi SMP Satu kan terus bertaji
Mengejawantahkan harapannya
Melunaskan hasrat yang terjanji

Ibu
Kumasih ingat suara terompahmu
Saat Isya bersama, ya, di mesjid kebanggaan kita
Leleh keringatmu belum lagi kering
Suara sangar menikamkan fitnah di wajah
Tapi tak perlu berpaling bila langkahmu
Telah melewati ujian dan klarifikasi
Aku yakin fitrahmu takan pupus
Hanya dihujah seekor musang
Karena kau adalah singa betina
Yang tahu di mana kau berpijak
Dan untuk siapa kau bijak
Pada Tuhanlah tentu

Ibu kumenapak jejakmu.
Selamat karena kau tak salah memilih profesi
Kau berhasil mengukir prestasi
Dalam pengabdian yang penuh kreasi dan inovasi
Sejarah di sini, ya, di SMP 1 terus menyaksi
Bila orang nomor satu terus berotasi

Ibu kumenapak jejakmu.


Jakarta, 14 Februari 2010
Ujang Nurochmat

Selasa, 26 Januari 2010

28. Puisi Untuk Bapakku

BAPAK
oleh: U. Nurochmat

Derap langkahmu
Adalah tari kecak di senja waktu
Mengerat sumpah
Para denawa di belantara

dudukmu di kursi kayu
Adalah kilatan laras senjata
Menancap di kibaran bendera

Namun kini,
Baringmu adalah lirih elang luka
Merapuh di balik kelu
Mengeja napas satu-satu

Segenang air mata
Melepuh sepi-sepi hari kamar tua
Mengusam kidung moyang kita
Kepasrahan pada tautan ayat-ayat
Maha Pencipta

Dan kini,
Tatap redupmu melampah
di titian doaku

9 Des. 2009

Senin, 02 November 2009

Anak-anak, silakan kalian unduh puisi di blog ini sesuai dengan nomor undianmu!

U. Nurochmat

Bahan Musikalisasi Puisi

1. Hasta Indriyana

DI SUATU STASIUN KERETA

Stasiun Tugu. Kita menunggu
Waktu. Jam di tangan
Seperti ketipak andong
Di jalanan. Berpacu membawa
Muatan pelancong

Penjual cindera mata. Menawarkan
Senyum setiap orang. Akua, reroti,
Blangkon, surjan bisakah kubawa
Pulang? Ah, etalase yang selalu
Mangganggu

Musim penghujan segalanya lembab
Kita berjalan perlahan sebab kata-kata
Meluap. Dan kesedihan ziarah ke negeri cinta
Lantas kita tulis menjadi puisi

(Tuhan Aku Lupa Menulis Sajak Cinta)

2. Hasta Indriyana

DI SUATU STASIUN KERETA-2

Gerbang ini tak jua beranjak dewasa
Rengek nakal perempuan
Penikmat juga tangis-tangis yang
Tersekat

Pintu itu masih pintu yang
Sama. Mengunci hati dengan
Makna selamat jalan dan arti
Hati-hati di perjalanan

Tempat ini melahirkan puisi
Tentang pisah dan pertemuan
Yang selalu menyita kelopak
Mata meneteskan air pelan-pelan

(dari: Tuhan, Aku lupa Menulis Sajak Cinta)

3. Slamet Sukirnanto

MAHGRIB PUN SAMPAI

Mahgrib pun sampai. Di luar jendela
Senja terbata-bata
Sebelum ayat-ayat terakhir
Sebelum sujud usai

Tuhan. Aku sendiri
Menggugurkan gelisah
Hari ini
Terimalah tutur fasih kami
(Di luar gugur
Daun trembesi)

Tuhan. Sudah sempurna
Angka-angka pada jari
Telah sempurna ayat-ayat suci
Tinggal aku sendiri. Di luar jendela
Semakin sunyi.

(Catatan Suasana)

4. Taufik Ismail

DOA

Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin

Tuhan kami
Telah terlalu mudah kami
Menggunakan asmaMu
Bertahun di negeri ini
Semoga Kau rela menerima kembali
Kami dalam barisanMu

Ampuni kami
Ampunilah
Amin

(Benteng dan Tirani)

5. Taufik Ismail

SYAIR ORANG LAPAR

Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas

Risau

Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu

Kuiris

Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kuulang jua

Kalau

(dari: Benteng Tirani)

6. Agus R. Sarjono

SAJAK DINGIN

Betapa dinginnya bintang
bintang, gumam selarik doa sambil terengah
mendaki malam. Bumi termangu
di jauhan.

Betapa dinginnya bintang
bintang, gumam selarik doa dalam penat
meniti harap. Panjang sudah
baris-baris duka
helai-helai airmata.

Apa pintamu, sapa suara.
Selarik doa itu pun terpana.
Dilupanya segala tanya
segala pinta.

(Diterbangkan Kata-kata)
7. U. Nurochmat

JELAGA

Jalan terjal ini
Masih kususuri
Dengan langkah lelah
Menyawang asa berkabut

Sesekali aku tergelincir
Saat melupa-Mu
Padahal hanya selintas bayangan
Yang mengganggu langkah ini

Sesekali aku mohon ampun-Mu
Dengan doa yang diada-ada
Padahal tobatku tobat semu
Lupakan ahlak yang cedera

Inilah aku. Sosok jelaga
Penuh noda dan dosa
Hidup hanya memanja dunia
Petunjuk-Mu ditaati kalau suka

8. Abdul Hadi W.M.

LAGU PUTIH

Malam itu datang dengan sayap burung
Yang berisik menuju kota
Di luar daunan menderu
Menyeru kelam

Mengapa lonceng di sana itu bermimpi
Dan rinai jatuh mengabut padang yang sepi?

Betina: berikan aku saat berlupa
Dan firman itu sampaikan
Aku butuh segala rusuh, segala nanar, segala bosan
Aku butuh impian dan dugaan

Menyeru malam dan lenyap dalam rusak

(dari: Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai sanur)

9. Abdul Hadi W.M.

LAGU

Danau kelabu pada dataran
Hutan-hutan di sekitarnya, perkasa
Gumpalan dingin di langit malam
Menghamparkan bayangan salju
Mengapa pimping pada mabok
Dan mengimpikan pagi musim rontok?

Tuhan dan gemuruh itu
Menghembus dan menyerbu

Melepaskan gasing
Dari pohonan tak berwarna
Tak bernama

(dari: Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai sanur)

10. Ramadhan KH.

PRIANGAN SI JELITA

Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki,
Burangrang – Tangkubanprahu.

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun

Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
kenakan kebaya merah ke pewayangan.

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di hati gadis menurun.

(Priangan si Jelita)

11. Diana Wijayanthi

BALLADA BAPAK TUA

Kuyu usap keriput tua
derita tampar hidup
kepalsuan duniawi hapus kenangan indah

Pandangan tajam lintas mata
guratan nyata di wajah bapak tua
letih khayal fantasi
bapak tua tak sanggup hadapi takdir
kepalsuan selama gayut diri
bapak tua, oh bapak tua

(Rindu Anak Mendulang Kasih)

12. Diana Wijayanthi

BINGKAI KEHIDUPAN

Ada peristiwa indah
ada peristiwa pahit
Keduanya sama dalam suratan takdir

Ada kebahagiaan
ada kepedihan
Keduanya sama dalam suratan takdir

Bingkai kehidupan
kadang kejam
kadang lembut

Keduanya sama dalam suratan takdir
bingkai kehidupan
terselimut dalam suratan takdir

(Rindu Anak Mendulang Kasih)

13. Chandra Yowani

SALAM PAGI SEORANG PETANI

Selamat pagi mentari
‘kan kugarap harimu

Di tiap rekah bumi

Selamat pagi pipit-pipit kecil
temani aku dengan senandung kembaramu
mengupas kulit bumi
jadi lahan harapan
selamat pagi desir angin
semilirmu dendangkan kemenangan
menisik beribu mimpi kalbuku
benahi musim

(Rindu Anak Mendulang Kasih)

14. Budiman S. Hartoyo

KABUT ITU

Aku menunggu. Engkau pun menunggu
Berjuta detik menjadi waktu
Jemu

Aku berlari. Engkau berhenti
Aku berhenti. Engkau pun berlari
Terentang jarak tiada arti
Mati

Mautkah batas antara kita?
(gaibkah ujud dan ada kita?)
Kita selalu terlena saja
selalu membisu menafsirkan makna cinta
Kekal dalam rahasia

Kabut itu
dan kekelaman itu
buanglah dari raut wajahmu

(Sebelum Tidur)

15. Sapardi Djoko Damono

IA TAK PERNAH

ia tak pernah berjanji kepada pohon
untuk menerjemahkan burung
menjadi api

ia tak pernah berjanji kepada burung
untuk menyihir api
menjadi pohon

ia tak pernah berjanji kepada api
untuk mengambilkan pohon
kepada burung

(Ayat-ayat Api)

16. Sapardi Djoko Damono

SEBELUM FAJAR

Beberapa saat sebelum fajar
sambil buru-buru menyalakan api
kita suka membayangkan hari ini
dengan dua atau tiga patah kata
yang tak pernah terucapkan.
Sementara anak-anak masih lelap tidur
di mata mereka yang tertutup
dua atau tiga patah kata itu
bersitahan sabar
menunggu matahari, bukan api

(Ayat-ayat Api)

17. Hasta Indrayana

FRAGMEN NEGERI KATA-KATA

1
Musim puisi, kita lewati ke sana
Cakrawala di depan lajulah perahu
Mengayuh rindu. Ada dayung juga peta
Tujuan satu, melarung cinta

2
Musim kemarau, kita panen matahari
Di kejauhan bumi bagai dipanggang api
Tanah-tanah risau. Juga air mata
Menguap di tiap hati

(Tuhan Aku Lupa Menulis Sajak Cinta)

18. Hasta Indriyana

MOZAIK

Kita adalah pelangi, aku air kamu cahay
Seperti hujan, aku kuning kamu biru. Lalu
Bidadari turun bumi pun mandi warna

Kita adalah anak-anak, melihat lengkung
Langit sambil bernyanyi. Aku nada kamu kata
Menjadi lagu dari pecahan kesedihan

(Tuhan Aku Lupa Menulis Sajak Cinta)

19. Slamet Sukirnanto

LAYANG-LAYANG MILIKKU

Layang-layang milikku, kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Di alam raya bersama burung-burung yang bebas
Adakah negeri-negeri bebas yang angkuh?

Satu pesan yang kusampaikan dari bumi ini
Janganlah meninggalkan daku, kemudian kau pergi
Sebab jarak antara kita akan semakin jauh
Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib

Layang-layang milikku, kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Sampaikan salam: hidup teguh di sini
Nyanyian bumi dalam ujud puisi

(Catatan Suasana)

20. Sapardi Djoko Damono

RUPANYA KITA

rupanya kita yang harus menjawab
suara itu. Tetapi bukankah hanya suara dingin
yang bergoyang dibawah lindap langit;
bukahkah hanya selembar daun yang putus, ke bumi

bukankah hanya napas kita sendiri. Rupanya kita
yang masih harus menyebut sebuah nama
di suatu tempat pada suatu waktu;
tetapi adakah kita kenal bahasa itu

(Ayat-ayat Api)

21. Slamet Sukirnanto

KATAKANLAH PADAKU

Katakanlah padaku
Kalau hanya desau angin
Bicara sonder kata
Jam makin sarat memutar jarummu
Engkau pun tahu
Kehampaan sungguh pun mencari maknanya
Di luar dirimu, di luar diriku
Kemudian ulurkan tanganmu
Goreskan pada dinding masa lalu
Mari
Bergegas lewat
Tanpa tapak
Tanpa jejak

(Catatan Suasana)

22. U. Nurochmat

ANDAI

Andai saja
bukan hanya aku
yang menahan rindu,

Andai saja
bukan hanya aku
yang menelan pilu,

Andai saja
bukan hanya aku
yang memeluk rindu,

Tentu
kau kan mengerti
betapa dalam rasa cintaku.

(Tak Perlu Bertanya Lagi)

23. U. Nurochmat

LAMPUS

Kududuk di sini
Memanja duka
Yang kau sematkan
Saat langkahku mengabari hatimu

Kududuk di sini
Menepis bayang
Yang sangsikan asaku
Saat langit melaknat raguku

Haruskah
Haruskah
Haruskah
Setiap janji berakhir di keranda duka?

Haruskah
Haruskah
Haruskah
Pamitku kau maknai dengan tatap nanar?

(Menapak bayang-bayang)

24. Budiman S. Hartoyo

MENUNGGU DAN PAMIT

Aku selalu menunggumu
Sejak dulu. Wahai sang waktu
Engkau pun berlalutanpa setahu sadarku
Engkau pun menyeret kakiku
Dan tanganku yang terkulai ragu

Di sinilah tempatnya engkau tahu
sejak dulu kutunggu selalu
setiap kesempatan
untuk bertemu berpapasan kemudian pamitan
Walau kita lahir tanpa kencan
tapi kadang kau berikan padaku
kesan dan kenangan
penghabisan

Sudahkah tiba saatnya yang tepat
untuk pamit?
Engkau diam saja
sementara penanggalan pun sobek-sobek juga
Dan wakilmu yang setia, arloji itu
Berhitung-hitung dengan angkuhnya

(Sebelum Tidur)

25. U. Nurochmat

RANTING DI TEPI KUBURAN

Adalah bulan sepotong semangka
Sinarnya temaram di ranting cempaka
Nun di atas dahan kiara tua
Burung hantu mengusir senja

Gundukan kubur rebahan waktu purba
Desis kelelawar getarkan jiwa
Ranting tua tak lagi bertahta
Esok lusa waktunya kan tiba

Seulas kisah kubenamkan
Pada helai waktu yang jenjang
Desah napas kian tertahan
Menanti sang detik detak terhenti

(Tak Perlu Bertanya Lagi)



Buat: Anak-anakku yang tajam dengan puisi