Selamat Datang

Senin, 04 April 2011

MAJAS

Majas perbandingan

  1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
  2. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
  3. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.
  4. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.
  5. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
  6. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
  7. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
  8. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
  9. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
  10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
  11. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
  12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
  13. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
  14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
  15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
  16. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
  17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
  18. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
  19. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
  20. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
  21. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
  22. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
  23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
  24. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.

Majas penegasan

  1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
  2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
  3. Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
  4. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
  5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
  6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
  7. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
  8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
  9. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
  10. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
  11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
  12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
  13. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
  14. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
  15. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
  16. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
  17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
  18. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
  19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
  20. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
  21. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
  22. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
  23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
  24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
  25. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Majas pertentangan
  1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
  2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
  3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
  4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
  5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.

Majas sindiran

  1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
  2. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
  3. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
  4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
  5. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.

Sabtu, 02 April 2011

MUSIKALISASI PUISI KARYA SISWA

MUSIKALISASI PUISI, APA ITU?
Sebenarnya kita -peserta didik- tidak dituntut untuk mendalami teori musikalisasi puisi. Bagi peserta didik, yang penting, ada puisi, lalu dinyanyikan, bila kebetulan ada alat musik, ya, silakan dimanfaatkan. yang penting, jangan sampai alat musik itu justru mengurangi suasana yang diusung puisi. Contohnya musikalisasi puisi yang dibawakan oleh anak-anak SMP Negeri 1 Jakarta ini. Mereka "hanya menggunakan dua pianika. Ternyata puisi sederhana yang dinyanyikannya terdukung oleh penggunaan alat musik tersebut. Kedua pemain pianika memahami kord-kord yang cocok untuk nada-nada yang membangun musikalnya. Lebih menarik lagi, puisi tersebut dinyanyikan dengan dua atau tiga suara (sopran, mezosopran, dan alto). Sungguh keren. Coba simak, musikalisasi ini jarang ditemukan, dalam arti penekanan pada makna puisinya. Satu lagi yang patut diacungi jempol, adalah ekspresi para pelantunnya yang menghayati isinya. Walaupun pada bagian akhir, perpaduan tiga warna suaranya kurang klop, tetap ini merupakan fenomena keberhasilan sebuah kreativitas. Selamat dan sukses. Ingin mendengarkan? Silakan klik videonya!

Rabu, 12 Januari 2011

Malam Tahun Baru

Kumelolong riskan pada cakrawala yang pekat.
Gadis lusuh hadir menawarkan derita.
Haruskah kuberlari,
jika lenguhku bertebaran di dadanya?


1 Januari 2011
U. Nurochmat

Jumat, 19 November 2010

PANTUN LOECOE

ada peti berat seton
tepinya digigit beruang
Niat hati ingin nonton
Tapi sayang ga punya uang

Telaga biru dari mamuju
Beli rantin dari tabungan
Laga-lagunya seperti borju
Ke kantin saja nyari tebengan

menuju biara niat kuliah
main layangan dekat ke hulu
Kalau bicara berlaga ilmiah
tiap ulangan diremed mulu

Buah menteng dibuat tape
dibuat lusa tinggal digerak
Kemana-mana menenteng hape
Padahal pulsa tinggal seperak

Sebutlah dua untuk kerani
Perahunya tinggalkan di petak
Rambut gaya dibuat poni
ternyata di dahinya ada pitak

(U.Nurochmat)

Minggu, 14 November 2010

SUDUT PANDANG PENGARANG
oleh: U. Nurochmat

Dalam dunia karang-mengarang prosa, sudut pandang pengarang (SPP) dibedakan menjadi 2 yaitu:

1. SPP orang I
SPP orang I ditandai dengan menggunakan "aku" atau "saya" sebagai tokoh cerita.
SPP orang I dibedakan menjadi:

a. SPP orang I pelaku utama
Contoh:
Sore itu aku sedang menyapu halaman rumahku. Tiba-tiba aku dikagetkan suara benda jatuh. segera Aku menjauh sambil menoleh ke arah suara. Ternyata suara itu suara mangga bekas codot yang jatuh.
"Astagfirullah!"aku menenangkan diri.
Rusni melongok dari jendela,"Aku juga kaget, Mbak."
"Kamu mendengar juga, Rus?"aku menoleh ke arah Rusni,"Padahal cuma ini,"kupungut mangga yang tercabik-cabik gigitan codot itu.

b. SPP orang I pelaku sampingan
Contoh:
Sore itu Pohaci sedang menyapu halaman rumahnya. Tiba-tiba dia dikagetkan suara benda jatuh. dia melangkah menjauh sambil menoleh ke arah suara. Ternyata suara itu suara mangga bekas codot yang jatuh.
"Astagfirullah!"Pohaci menenangkan diri.
Aku melongok dari jendela,"Aku juga kaget, Mbak."
"Kamu mendengar juga, Rus?"Pohaci menoleh ke arah
ku,"Padahal cuma ini,"Pohaci memungut mangga yang tercabik-cabik gigitan codot itu.

2. SPP Orang III
SPP orang III ditandai dengan menggunakan "dia/ia" atau nama pelaku sebagai tokoh cerita.
SPP orang III dibedakan menjadi:

a. SPP Orang III serbatahu
Dikatakan serbatahu itu maksudnya, pengarang menceritakan sedetil mungkin sampai ke masalah yang ada dalam pikiran si tokoh cerita.
Contoh:
Sore itu Pohaci sedang menyapu halaman rumahnya. Tiba-tiba dia dikagetkan suara benda jatuh. dia menjauh sambil menoleh ke arah suara. Ternyata suara itu suara mangga bekas codot yang jatuh.
"Astagfirullah!"Pohaci menenangkan diri.
Rusni melongok dari jendela,"Aku juga kaget, Mbak."
"Kamu mendengar juga, Rus?"Pohaci menoleh ke arah Rusni,"Padahal cuma ini,"
Pohaci memungut mangga yang tercabik-cabik gigitan codot itu.

a. SPP Orang III tidak serbatahu
Dikatakan "tidak serbatahu" itu maksudnya, pengarang tidak menceritakan sedetil mungkin sampai ke masalah yang ada dalam pikiran si tokoh cerita. Kesannya pengarang tidak mengetahui apa yang sudah, sedang dan akan terjadi.
Contoh:
Sore itu seorang perempuan sedang menyapu halaman rumah. Tiba-tiba ada suara benda jatuh. Entah apa yang dia rasakan lalu dia menjauh sambil menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata suara itu suara mangga bekas codot yang jatuh.
"Astagfirullah!"perempuan itu menenangkan diri.
Seorang perempuan lain melongok dari jendela,"Aku juga kaget, Mbak."
"Kamu mendengar juga, Rus?"perempuan tadi menoleh ke arah perempuan yang di jendela,"Padahal cuma ini,"perempuan itu memungut mangga yang tercabik-cabik gigitan codot itu.

Begitulah anak-anak yang dimaksud sudut pandang pengarang. Bagaimana dengan cerpen yang kalian baca? Menggunakan sudut pandang apa? Untuk latihan, coba kalian baca dan analisis Sketsa yang saya muat dalam blog ini bulan September 2010 yang lalu. Tentukan sudut pandang pengarangnya!

Selamat mengerjakan!

Selasa, 28 September 2010

SKETSA

Peron stasiun masih lengang. Beberapa orang tertidur ada yang di atas bangku, ada yang dekat pintu kamar mandi bertatakan koran. Kereta yang tadi Bu Minah tumpangi sudah berlalu meninggalkan tiang-tiang listrik kesepian. Bu Minah sejenak termangu.
"Ayo, Bu, aku ngantuk!"Iwan menarik-narik lengan ibunya.
"Ih, kenapa sih?"Bu Minah kesal karena bajunya nyaris sobek,"Tar dulu, Ibu takut bapakmu belum bangun!"katanya memberitahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Lapar, Bu!"anak berumur 7 tahun itu merengek lagi."
Kali ini Bu Minah tidak jengel atas keluhan anaknya itu karena dia menyadari sejak tadi berangkat anaknya baru diberi tahu dan telur asin.
Seorang lelaki yang tidur menyandar di tembok peron terbangun. Menguap, menggeliat! Lalu menoleh ke kiri kanan.
"Mau kemana, Bu?"tanyanya sambil memperbaiki jaketnya yang terangsur ke atas.
Bu Minah menoleh agak sedikit kaget. Hatinya mulai berdebar saat lelaki itu menghampirinya. Bu Minah mengedar pandang ke segala arah untuk memastikan ada orang lain yang bisa menolongnya bila terjadi apa-apa. Dia masih ingat nasehat Mbak Rusti bahwa di Jakarta banyak penjahat.
Matanya tidak menemukan orang yang terjaga, malah suara radio dari hape petugas di ruang loket pun sudah lama tidak terdengar lagi.
"Ke mana, Bu?"tanya lelaki itu setelah berdiri tidak jauh dari hadapan Bu Minah. Bau mulut menyeruak. Iwan merapat ke paha ibunya sambil memegangi ujung tangan ibunya.
"Anu, Mas, saya mau ke rumah suami saya di Tanah Abang,"Bu Minah gugup.
"Sama siapa? Ini anaknya? Itu bawa apa?"lelaki itu beruntun menanyakan.
"Iya ini anak saya, dan ini pakaian kami,"Bu Minah menarik tas pakaiannya yang ritsletingnya sudah dicantum dengan peniti sehingga beberapa potong pakaiannya tampak mengintip ke luar.
Lelaki itu berlalu,"Naik bajaj aja tuh!"katanya sambil menunjukkannya dengan mulutnya.
Aku yang sejak kereta berhenti memperhatikan setiap penumpang yang turun segera memberi isyarat dan lelaki itu mengerti isyaratku dan berbelok arah langkahnya menjadi ke arahku yang duduk di kios rokok yang tutup.
"Kere, bos!"kata lelaki itu.
"Makanya jangan molor melulu! tadi ada yang borju, lo malah ngorok!"
"Iya, sori, Bos!"katanya dan kusambut dengan hembusan asap rokokku ke mukanya.

oleh: U. Nurochmat

Anak-anak kelas IX, tolong dicopas sketsa ini, dan analisislah unsur intrinsiknya!