Sabtu, 11 April 2015
Rabu, 04 Februari 2015
Membandingkan Novel Angkatan 20 dan 30
Sinopsis Novel Siti Nurbaya : Kasih Tak Sampai
Penulis: Marah Rusli
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Pertama terbit: 1922
Jumlah Halaman: 291
Novel ini boleh jadi merupakan salah satu karya terbesar anak bangsa bahkan sampai saat ini. Harus diakui bahwa Marah Rusli telah menyusupkan karyanya bahkan ke dalam sistem budaya bangsa Indonesia. Anda tentu mengerti jika orang-orang berkata “Jangan seperti Sitti Nurbaya” atau “Aku bukan Sitti Nurbaya”. Tokoh Sitti Nurbaya juga kisahnya memang melekat erat dalam benak masyarakat Indonesia. Ia seolah menjadi simbol abadi kasih yang terpaksa, kasih yang tak sampai, kasih yang penuh pertentangan keluarga. Pernah membaca novel apik ini?
Patut disayangkan jika Anda belum pernah melahap abjad demi abjad dalam buku ini. Kisahnya klasik memang, tentang cinta remaja tokoh Sitti Nurbaya dengan seorang pemuda minang bernama Samsulbahri. Sitti Nurbaya sendiri merupakan anak dari seorang bangsawan Baginda Sulaiman sementara itu Samsulbahri adalah anak pembesar bernama Sutan Mahmud Syah. Mereka saling mencintai diam-diam. Pengakuan baru muncul saat Samsulbahri hendak pergi ke Batavia untuk menuntut ilmu. Mereka menghabiskan waktu lama berdua di perbukitan dan saat hendak berpisah Samsulbahri mencium Sitti Nurbaya di depan rumahnya. Hal ini tertangkap oleh ayah Sitti Nurbaya yang seketika berang. Demikian pula dengan masyarakat sekitar. Samsulbahri kemudian dikejar dan keluar dari Padang menuju Batavia.
Tokoh lainnya bernama Datuk Maringgih. Ia seorang yang terpandang di desanya. Bahkan merupakan saingan ayah Siti Nurbaya, Baginda Sulaiman. Datuk Maringgih menyimpan rasa dengki atas keberhasilan bisnis Ayah Sitti Nurbaya. Ia kemudian berbuat hal jahat menjatuhkan usaha Baginda Sulaiman dan membuatnya bangkrut tak berdaya. Tak berhenti sampai di situ, Datuk Maringgih juga membuat ayah Sitti Nurbaya berutang banyak padanya. Saat Datuk Maringgih datang memaksa keluarga Sitti Nurbaya membayar utang, ia kemudian menawarkan diri untuk menikah dengan sang Datuk asalkan semua utang ayahnya dianggap lunas tanpa sisa. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Datuk Maringgih menerima penawaran tersebut.
Sitti Nurbaya dan Datuk Maringgih akhirnya menikah jua, namun karena perlakuan sang suami yang dianggap kasar, akhirnya Sitti Nurbaya lari ke Batavia dan bertemu dengan Samsulbahri di sana. Mereka kembali jatuh cinta sampai suatu saat Siti Nurbaya menerima surat dari desa yang menyatakan bahwa ayahnya telah meninggal. Ia akhirnya kembali ke Padang dan meninggal di sana akibat keracunan kue yang diberikan oleh Datuk Maringgih. Samsulbahri sangat terpukul dan mencoba bunuh diri tetapi tak bisa. Pada akhirnya, di suatu kesempatan, ia berhasil membalaskan dendamnya.
Menurut bebrapa pengamat sastra, novel ini tidak menggunakan gaya penuturan Marah Rusli yang sebenarnya sebab pada jaman tersebut semua penulis yang bukunya hendak diterbitkan oleh Balai Pustaka harus mematuhi “gaya” yang telah mereka tetapkan. Meski demikian, pemilihan kata Marah Rusli dalam novel ini sangat memikat meski ia terkesan memilih bahasa yang aman. Dalam novel ini, ia juga banyak menggunakan pantun untuk menyampaikan persaan, salah satunya adalah:
“Padang Panjang dilingkari bukit,
bukit dilingkari kayu jati,
Kasih sayang bukan sedikit
dari mulut sampai ke hati”
Novel ini secara keseluruhan sangat cerdas. Ada pengaruh budaya Eropa di dalamnya yang memang kuat bercokol pada diri Marah Rusli, tetapi tidak mengurangi keluwesan dalam bercerita. Sinopsis Novel Sitti Nurbaya ini disusun agar Anda jatuh cinta dan mau membaca novelnya utuh. Selamat berburu novel ya!
Sinopsis Novel Layar
Terkembang
Penulis: Sutan Takdir
Alisjahbana
Penerbit: Balai PustakaTahun Pertama terbit: 1937
Jumlah Halaman: 139
Novel ini merupakan salah satu karya terbaik anak negeri. Ia merupakan gerbang menuju dunia sastra yang modern. Bagi sebagian orang, novel ini bahkan dianggap sebagai saski sejarah berkembangnya Bahasa Indonesia dan juga pergolakan pemikiran menuju keterbukaan utamanya bagaimana memandang wanita dalan strata sosial masyarakat Indonesia. Novel ini memang menceritakan dua orang wanita yang bertalian darah, bernama Tuti dan Maria. Mereka kakak beradik, wanita yang menjadi simbol “kemerdekaan” di jamannya. Novel ini termasuk pembaharu sebab pada tahun 1936, wanita masih dikungkung oleh budaya dan stigma dalam kehidupan sosial. Novel ini berusaha mendobrak hal tersebut melalui sastra.
Kisah
Tuti dan Maria merupakan cerminan ide kesetaraan gender yang pada masa tersebut
dianggap tabu. Sang penulis menggambarkan kedua tokoh dengan baik. Dikisahkan,
Tuti dan Maria memiliki perangai yang berbeda. Tuti adalah sang kakak, ia
serius juga aktif dalam kegiatan organisasi kewanitaan. Sementara itu, Maria
sang adik, memiliki tabiat yang lincah juga ceria. Ia banyak disenangi
orang-orang. Di dalam kehidupan dua gadis jelita ini, penulis memunculkan
seorang tokoh bernama Yusuf, pemuda tampan mahasiswa kedokteran yang di
kemudian hari menjadi kekasih dari tokoh Maria.
Bagaimana
reaksi Tuti dengan percintaan Maria? Tuti juga mendambakan pasangan jiwa
seperti adiknya. Hanya saja ia belum mendapatkan seseorang yang benar-benar
mengisi. Memang ada yang menaruh hati pada Tuti. Pemuda itu bernama Supomo. Ia
baik, terpelajar juga berbudi luhur. Namun Tuti tidak merasakan apa-apa pada
jejaka tersebut. Ia menolak keinginan hati Supomo dan menenggelamkan dirinya
dalam kesibukan organisasi. Seiring perkembangan waktu, hubungan Maria dan
Yusuf semakin intim. Bahkan kedua keluarga telah sepakat untuk mengadakan
pertunangan. Namun, sedihnya, sebab menjelang pernikahan Maria terkena penyakit
dan pada akhirnya ia meninggal. Sebelum menghembuskan nafas, ia berpesan agar
Yusuf menikahi kakaknya, Tuti.
Kisah
ini sedikit janggal memang jika ditelaah. Sebab, bagaimana mungkin tokoh Yusuf
dengan mudahnya berpindah hati pada tokoh Tuti setelah kekasihnya Maria
meninggal dunia. Terlebih perangai Tuti sangat jauh berbeda dengan Maria. Ia
cenderung serius, pendiam dan kaku. Watak demikian, dalam dunia nyata, tentu
sukar untuk dicintai. Namun, dalam kurun waktu singkat, Yusuf dan Tuti menjadi
pasangan yang saling mencinta. Meski agak janggal, namun novel ini tetap layak
dianggap sebagai pembaharu yang menyampaikan gagasan keterbukaan pada
masyarakat mengenai bagaimana sebenarnya posisi wanita dalam lingkup sosial.
Novel
ini sangat layak dibaca. Tangan dingin sang penulis membuat kisah cinta di
dalamnya menarik untuk dibaca. Pemilihan kata penulis juga patut disimak
terlebih bagi mereka yang mencintai dunia sastra.Sinopsis Novel Layar
Terkembang ini hanya menyajikan sepotong kisah. Jika Anda tertarik
dengan detil cerita, silahkan baca bukunya secara utuh ya. Selamat membaca.
Sumber:
Selasa, 03 Februari 2015
SANDIWARA CINTA-Revblik
SANDIWARA CINTA – Revblik
[intro] C D G Am D
G D/F# Em
aku tahu ini semua tak adil
Am D
aku tahu ini sudah terjadi
G D/F# Em
mau bilang apa aku pun tak sanggup
Am D
air mata pun tak lagi mau menetes
G D/F# Em
alasannya seringkali ku dengar
Am D
alasannya seringkali kau ucap
G D/F# Em
kau dengannya seakan ku tak tahu
Am D G
sandiwara apa yang telah kau lakukan kepadaku
[chorus]
C D G
jujurlah sayang aku tak mengapa
Am D G
biar semua jelas telah berbeda
C D Em
jika nanti aku yang harus pergi
Am D G
kuterima walau sakit hati
G D/F# Em
mungkin ini jalan yang engkau mau
Am D
mungkin ini jalan yang kauinginkan
G D/F# Em
kaudengannya seakan ku tak tahu
Am G C
sandiwara apa
Am G C
ceritanya apa
D
aku tahu
[chorus]
C D G
jujurlah sayang aku tak mengapa
Am D G
biar semua jelas telah berbeda
C D Em
jika nanti aku yang harus pergi
Am D G
kuterima walau sakit hati
[solo] C D G
Am D G
[chorus]
C D G
jujurlah sayang aku tak mengapa
Am D G
biar semua jelas telah berbeda
C D ][poiuytrewq Em
jika nanti aku yang harus pergi
Am D G
kuterima walau sakit hati
Am D G
kuterima walau sakit hati
G D/F# Em
aku tahu ini semua tak adil
Am D
aku tahu ini sudah terjadi
G D/F# Em
mau bilang apa aku pun tak sanggup
Am D
air mata pun tak lagi mau menetes
G D/F# Em
alasannya seringkali ku dengar
Am D
alasannya seringkali kau ucap
G D/F# Em
kau dengannya seakan ku tak tahu
Am D G
sandiwara apa yang telah kau lakukan kepadaku
[chorus]
C D G
jujurlah sayang aku tak mengapa
Am D G
biar semua jelas telah berbeda
C D Em
jika nanti aku yang harus pergi
Am D G
kuterima walau sakit hati
G D/F# Em
mungkin ini jalan yang engkau mau
Am D
mungkin ini jalan yang kauinginkan
G D/F# Em
kaudengannya seakan ku tak tahu
Am G C
sandiwara apa
Am G C
ceritanya apa
D
aku tahu
[chorus]
C D G
jujurlah sayang aku tak mengapa
Am D G
biar semua jelas telah berbeda
C D Em
jika nanti aku yang harus pergi
Am D G
kuterima walau sakit hati
[solo] C D G
Am D G
[chorus]
C D G
jujurlah sayang aku tak mengapa
Am D G
biar semua jelas telah berbeda
C D ][poiuytrewq Em
jika nanti aku yang harus pergi
Am D G
kuterima walau sakit hati
Am D G
kuterima walau sakit hati
Senin, 01 Desember 2014
ANEKDOT
Anekdot adalah cerita singkat berdasarkan pengalaman pribadi
yang terkesan lucu. Walaupun lucu, anekdot tidak ditujukan untuk lelucon karena
di dalamnya ada tersirat atau tersurat menyampaikan sebuah renungan tentang
kebenaran sebuah realita.
Struktur
anekdot meliputi:
1.
Realita, abstraksi: adalah gambaran umum yang dapat diterima kebenarannya sebagai paragraf
pengantar pada masalah.
2.
Pengenalan, orientasi: adalah latar belakang peristiwa.
3.
Konflik, krisis: adalah permasalahan yang terjadi yang dialami tokoh cerita, biasanya
disertai percakapan agar lebih hidup.
4.
Reaksi, resolusi: adalah bagian cerita yang berupa dampak dari konflik atau krisis.
5.
Koda: adalah
simpulan atau penguatan bisa tersirat atau tersurat berisi pesan yang ingin
disampaikan.
Contoh:
ULANGAN IPA
Mencontek bagi beberapa siswa sudah tidak lagi
dianggap prilaku yang tidak wajar. Mereka umumnya sudah menyiapkan contekan
dengan modus yang tidak dapat dideteksi oleh guru atau pengawas ruang. Prilaku curang ini tentu saja sering terjadi
di sekitar kita, khususnya dalam dunia pendidikan. Seperti yang saya alami
beberapa tahun yang lalu.
![]() |
| Anekdot itu indah |
Pada suatu hari saat ulangan IPA, saya sudah sejak
malam menyiapkan contekan pada sehelai kertas dengan tulisan yang sekecil
mungkin agar dalam kertas sedikit dapat memuat informasi sebanyak mungkin.
Contekan itu saya selipkan pada tali jam tangan yang saya pinjam dari Ayah.
Maklum saya tidak pernah pakai jam tangan. Ulangan pun berlangsung.
Sepuluh menit pertama kelas hening, seluruh siswa
terpaku pada naskah soal. Namun pada menit-menit berikutnya banyak siswa yang
mulai gelisah karena soal yang mudah sudah selesai dikerjakan. Itupun hanya
beberapa soal saja. Sisanya benar-benar buntu. Maka akal curang saya mulai
bekerja. Saya perhatikan pengawas duduk di depan dengan menahan kantuk. Ini
kesempatan! Pikir saya. Lalu dibukanya dengan hati-hati “bekal” yang saya
selipkan pada tali jam tangan. Secarik kertas sudah di genggaman. Lalu kubuka.
Binggo! Aku tersenyum melihat tulisan yang diperlukan ada pada kertas tersebut.
Bajuku ada yang narik dari belakang. Ini pasti si
Rukman minta jawaban.
“Sebentar!” bisikku sambil terus membaca contekan.
Tak lama terasa bahuku dijawil dari belakang. Rupanya
si Rukman tidak sabaran.
“Nih, kamu baca sendiri!” bisik saya sambil mengulurkan
tangan ke belakang secara perlahan agar tidak menarik perhatian pengawas.
Lalu sebuah tangan menyambut uluran tangan saya dari
belakang. Tetapi yang dipegang bukan kertas contekannya, melainkan pergelangan
tangan. Saya kaget, lalu kutoleh.
Oh, My God …
sebuah wajah dingin berkacamata menatap tajam tidak jauh dari ubun-ubun saya.
Rupanya pengawas tanpa setahu saya sudah berdiri di belakang saya. Bisa jadi
sejak tadi. Saya tidak perlu menceritakan sanksi apa yang saya terima. Pokoknya
saya saat itu dianggap batal ulangan. Karuan saja, saya ditertawakan
teman-teman sekelas. Sungguh betapa malunya saya.
Sejak kejadian itu saya benar-benar kapok melakukan
kecurangan seperti itu. Memang, selain prilaku itu merupakan perbuatan curang,
dan sama saja dengan membodohi diri sendiri, juga perbuatan itu termasuk dosa
di mata Tuhan.
Jakarta, 10 November 2014
U. Nurochmat
U. Nurochmat
Minggu, 23 November 2014
Sabtu, 18 Oktober 2014
31. Chairil Anwar
DERAI DERAI CEMARA
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah.
32. Abdul Hadi WM
RAMA-RAMA
rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat
meraba cahaya
terbanglah jangan ke bunga, tapi ke laut
menjelmalah kembang di karang
rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat
di rambutmu jari-jari matahari yang dingin
kadang mengembuni mata, kadang pikiran
melimpahinya dengan salju dan hutan yang lebat.
33. Joko Pinurbo
LUKISAN BERWARNA
untuk Andreas dan Dorothea
Hujan beratus warna
tumpah di hamparan kanvas senja.
Pohon-pohon bersorak gembira
sebab dari ranting-rantingnya yang sakit
kuncup jua daun-daun beratus warna.
Burung-burung bernyanyi riang,
terbang riuh dari dahan ke dahan
dengan sayap beratus warna.
Dua malaikat kecil menganyam cahaya,
membentangkan bianglala
di bawah langit beratus warna.
Airmata beratus warna kautumpahkan
ke celah-celah sunyi
yang belum sempat tersentuh warna.
34. U. Nurochmat
DERAI DERAI CEMARA
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah.
32. Abdul Hadi WM
RAMA-RAMA
rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat
meraba cahaya
terbanglah jangan ke bunga, tapi ke laut
menjelmalah kembang di karang
rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat
di rambutmu jari-jari matahari yang dingin
kadang mengembuni mata, kadang pikiran
melimpahinya dengan salju dan hutan yang lebat.
33. Joko Pinurbo
LUKISAN BERWARNA
untuk Andreas dan Dorothea
Hujan beratus warna
tumpah di hamparan kanvas senja.
Pohon-pohon bersorak gembira
sebab dari ranting-rantingnya yang sakit
kuncup jua daun-daun beratus warna.
Burung-burung bernyanyi riang,
terbang riuh dari dahan ke dahan
dengan sayap beratus warna.
Dua malaikat kecil menganyam cahaya,
membentangkan bianglala
di bawah langit beratus warna.
Airmata beratus warna kautumpahkan
ke celah-celah sunyi
yang belum sempat tersentuh warna.
34. U. Nurochmat
TAMU DARI KOTA
Selamat sore ... Senja!
Sebentar aku seka dulu keringatku
Sudah lama menunggu?
Bawa kabar apa dari kota?
Bagaimana jalan rayanya masih hiruk pikuk
oleh kedustaan dan pura-pura?
Sudah kau apakan bibit-bibit tabulapot
yang kuserahkan?
... Atau jangan-jangan
sudah mati kena hama glamor pergaulan
Lalu kau ganti dengan pohon plastik
yang lebih rindang
Maaf ... aku terus bertanya
ga terasa malam telah tiba..
35. U. Nurochmat
TAK LAGI
Kakek tua penjaga masa
Kerut kulit wajahmu
Menyusun luka duka
Memeluk suka cita
Kakek tua penunggu waktu
Kini tinggallah desahmu
Tak lagi bisa berkarya
Memikul dagangan,
Mencangkul ladang
O, masa lalumu telah berlalu
Tinggalkan kenangan manis dan tangis
Maka pupuslah sesalmu
Tak ada guna kau ratapi.
36. Sapardi Joko Damono
PADA SUATU HARI NANTI
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari.
PADA SUATU HARI NANTI
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari.
Senin, 14 April 2014
Langganan:
Postingan (Atom)







