Selamat Datang

Sabtu, 11 April 2015

Contoh Teks Prosedur




Membuat Rak Buku dari Karton Bekas

Salah satu barang yang sederhana yang bisa kita buat sendiri ini misalkan rak tempat menyimpan buku-buku atau majalah. Anda bisa membuat barang ini berapa pun yang diinginkan, karena bahan-bahan yang diperlukannya juga sangatlah sederhana juga tidak akan membuat anda harus mengeluarkan uang yang banyak. Dengan adanya rak sederhana ini akan membuat rumah tampak rapi, karena ini akan menghindari anda untuk menyimpan buku-buku ataupun majalah yang lainnya secara sembarangan.
Created by: U. Nurochmat

Membuat rak buku dari karton bekas ini diawali dengan cara sebagai berikut, pertama, carilah karton bekas, misalnya karton bekas susu. Usahakan jangan bekas karton susu kecil karena harus sesuai dengan ukuran buku atau majalah.
Kedua, guntinglah penutup bagian atas hingga rata. Lakukanlah dengan hati-hati agar bekas guntingan benar-benar lurus.
Langkah ketiga, ukurlah pada bagian atas dari sisi kanan ke kiri sepanjang 6 cm. Sebenarnya ukuran ini boleh saja lebih atau kurang sedikit sesuai selera. Tandai dengan pinsil atau pulpen. Kemudian ukur dari sisi kiri bawah ke atas sepanjang 7 cm. seperti sebelumnya, tandai dengan pinsil atau pulpen.
Keempat, tariklah garis lurus dari titik 6 cm ke titik 7 cm! Lakukan hal yang sama pada sisi sebelahnya. Begitupun dengan titik 7 cm bagian kiri ke titik 7 cm bagian kanan. Tarik garis lurus.
Kelima, guntinglah dengan mengikuti garis tadi.
Keenam, Maka karton susu tadi sudah siap digunakan sebagai tempat buku atau majalah. Namun jika ingin lebih menarik, lapisi dengan kertas kado sesuai dengan selera Anda. Apabila buku-buku Anda cukup banyak, buatlah rak buku tersebut lebih banyak lagi.
Kini karton bekas susu di rumah Anda tidak lagi dibuang sia-sia begitu saja karena dapat dimanfaatkan sebagai rak buku atau majalah. Di samping itu kita juga tidak perlu mengeluarkan biaya besar dalam memanfaatkan limbah karton susu.

Oleh: U. Nurochmat

Rabu, 04 Februari 2015

Membandingkan Novel Angkatan 20 dan 30

Sinopsis Novel Siti Nurbaya : Kasih Tak Sampai

Penulis: Marah Rusli
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Pertama terbit: 1922 
Jumlah Halaman: 291 
Novel ini boleh jadi merupakan salah satu karya terbesar anak bangsa bahkan sampai saat ini. Harus diakui bahwa Marah Rusli telah menyusupkan karyanya bahkan ke dalam sistem budaya bangsa Indonesia. Anda tentu mengerti jika orang-orang berkata “Jangan seperti Sitti Nurbaya” atau “Aku bukan Sitti Nurbaya”. Tokoh Sitti Nurbaya juga kisahnya memang melekat erat dalam benak masyarakat Indonesia. Ia seolah menjadi simbol abadi kasih yang terpaksa, kasih yang tak sampai, kasih yang penuh pertentangan keluarga. Pernah membaca novel apik ini? 
Patut disayangkan jika Anda belum pernah melahap abjad demi abjad dalam buku ini. Kisahnya klasik memang, tentang cinta remaja tokoh Sitti Nurbaya dengan seorang pemuda minang bernama Samsulbahri. Sitti Nurbaya sendiri merupakan anak dari seorang bangsawan Baginda Sulaiman sementara itu Samsulbahri adalah anak pembesar bernama Sutan Mahmud Syah. Mereka saling mencintai diam-diam. Pengakuan baru muncul saat Samsulbahri hendak pergi ke Batavia untuk menuntut ilmu. Mereka menghabiskan waktu lama berdua di perbukitan dan saat hendak berpisah Samsulbahri mencium Sitti Nurbaya di depan rumahnya. Hal ini tertangkap oleh ayah Sitti Nurbaya yang seketika berang. Demikian pula dengan masyarakat sekitar. Samsulbahri kemudian dikejar dan keluar dari Padang menuju Batavia. 
Tokoh lainnya bernama Datuk Maringgih. Ia seorang yang terpandang di desanya. Bahkan merupakan saingan ayah Siti Nurbaya, Baginda Sulaiman. Datuk Maringgih menyimpan rasa dengki atas keberhasilan bisnis Ayah Sitti Nurbaya. Ia kemudian berbuat hal jahat menjatuhkan usaha Baginda Sulaiman dan membuatnya bangkrut tak berdaya. Tak berhenti sampai di situ, Datuk Maringgih juga membuat ayah Sitti Nurbaya berutang banyak padanya. Saat Datuk Maringgih datang memaksa keluarga Sitti Nurbaya membayar utang, ia kemudian menawarkan diri untuk menikah dengan sang Datuk asalkan semua utang ayahnya dianggap lunas tanpa sisa. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Datuk Maringgih menerima penawaran tersebut. 
Sitti Nurbaya dan Datuk Maringgih akhirnya menikah jua, namun karena perlakuan sang suami yang dianggap kasar, akhirnya Sitti Nurbaya lari ke Batavia dan bertemu dengan Samsulbahri di sana. Mereka kembali jatuh cinta sampai suatu saat Siti Nurbaya menerima surat dari desa yang menyatakan bahwa ayahnya telah meninggal. Ia akhirnya kembali ke Padang dan meninggal di sana akibat keracunan kue yang diberikan oleh Datuk Maringgih. Samsulbahri sangat terpukul dan mencoba bunuh diri tetapi tak bisa. Pada akhirnya, di suatu kesempatan, ia berhasil membalaskan dendamnya.
Menurut bebrapa pengamat sastra, novel ini tidak menggunakan gaya penuturan Marah Rusli yang sebenarnya sebab pada jaman tersebut semua penulis yang bukunya hendak diterbitkan oleh Balai Pustaka harus mematuhi “gaya” yang telah mereka tetapkan. Meski demikian, pemilihan kata Marah Rusli dalam novel ini sangat memikat meski ia terkesan memilih bahasa yang aman. Dalam novel ini, ia juga banyak menggunakan pantun untuk menyampaikan persaan, salah satunya adalah: 
“Padang Panjang dilingkari bukit, 
bukit dilingkari kayu jati, 
Kasih sayang bukan sedikit
dari mulut sampai ke hati”
Novel ini secara keseluruhan sangat cerdas. Ada pengaruh budaya Eropa di dalamnya yang memang kuat bercokol pada diri Marah Rusli, tetapi tidak mengurangi keluwesan dalam bercerita. Sinopsis Novel Sitti Nurbaya ini disusun agar Anda jatuh cinta dan mau membaca novelnya utuh. Selamat berburu novel ya!


Sinopsis Novel Layar Terkembang

Penulis: Sutan Takdir Alisjahbana 
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Pertama terbit: 1937
Jumlah Halaman: 139



Novel ini merupakan salah satu karya terbaik anak negeri. Ia merupakan gerbang menuju dunia sastra yang modern. Bagi sebagian orang, novel ini bahkan dianggap sebagai saski sejarah berkembangnya Bahasa Indonesia dan juga pergolakan pemikiran menuju keterbukaan utamanya bagaimana memandang wanita dalan strata sosial masyarakat Indonesia. Novel ini memang menceritakan dua orang wanita yang bertalian darah, bernama Tuti dan Maria. Mereka kakak beradik, wanita yang menjadi simbol “kemerdekaan” di jamannya. Novel ini termasuk pembaharu sebab pada tahun 1936, wanita masih dikungkung oleh budaya dan stigma dalam kehidupan sosial. Novel ini berusaha mendobrak hal tersebut melalui sastra. 
Kisah Tuti dan Maria merupakan cerminan ide kesetaraan gender yang pada masa tersebut dianggap tabu. Sang penulis menggambarkan kedua tokoh dengan baik. Dikisahkan, Tuti dan Maria memiliki perangai yang berbeda. Tuti adalah sang kakak, ia serius juga aktif dalam kegiatan organisasi kewanitaan. Sementara itu, Maria sang adik, memiliki tabiat yang lincah juga ceria. Ia banyak disenangi orang-orang. Di dalam kehidupan dua gadis jelita ini, penulis memunculkan seorang tokoh bernama Yusuf, pemuda tampan mahasiswa kedokteran yang di kemudian hari menjadi kekasih dari tokoh Maria.
Bagaimana reaksi Tuti dengan percintaan Maria? Tuti juga mendambakan pasangan jiwa seperti adiknya. Hanya saja ia belum mendapatkan seseorang yang benar-benar mengisi. Memang ada yang menaruh hati pada Tuti. Pemuda itu bernama Supomo. Ia baik, terpelajar juga berbudi luhur. Namun Tuti tidak merasakan apa-apa pada jejaka tersebut. Ia menolak keinginan hati Supomo dan menenggelamkan dirinya dalam kesibukan organisasi. Seiring perkembangan waktu, hubungan Maria dan Yusuf semakin intim. Bahkan kedua keluarga telah sepakat untuk mengadakan pertunangan. Namun, sedihnya, sebab menjelang pernikahan Maria terkena penyakit dan pada akhirnya ia meninggal. Sebelum menghembuskan nafas, ia berpesan agar Yusuf menikahi kakaknya, Tuti.
Kisah ini sedikit janggal memang jika ditelaah. Sebab, bagaimana mungkin tokoh Yusuf dengan mudahnya berpindah hati pada tokoh Tuti setelah kekasihnya Maria meninggal dunia. Terlebih perangai Tuti sangat jauh berbeda dengan Maria. Ia cenderung serius, pendiam dan kaku. Watak demikian, dalam dunia nyata, tentu sukar untuk dicintai. Namun, dalam kurun waktu singkat, Yusuf dan Tuti menjadi pasangan yang saling mencinta. Meski agak janggal, namun novel ini tetap layak dianggap sebagai pembaharu yang menyampaikan gagasan keterbukaan pada masyarakat mengenai bagaimana sebenarnya posisi wanita dalam lingkup sosial.
Novel ini sangat layak dibaca. Tangan dingin sang penulis membuat kisah cinta di dalamnya menarik untuk dibaca. Pemilihan kata penulis juga patut disimak terlebih bagi mereka yang mencintai dunia sastra.Sinopsis Novel Layar Terkembang ini hanya menyajikan sepotong kisah. Jika Anda tertarik dengan detil cerita, silahkan baca bukunya secara utuh ya. Selamat membaca.






Sumber:

Selasa, 03 Februari 2015

SANDIWARA CINTA-Revblik

SANDIWARA CINTA – Revblik

[intro] C D G  Am D 

      G        D/F#      Em 
aku tahu ini semua tak adil 
      Am                 D 
aku tahu ini sudah terjadi 
           G       D/F#        Em 
mau bilang apa aku pun tak sanggup 
         Am                  D 
air mata pun tak lagi mau menetes 

      G         D/F#      Em 
alasannya seringkali ku dengar 
      Am                   D 
alasannya seringkali kau ucap 
          G          D/F#      Em 
kau dengannya seakan ku tak tahu 
          Am                     D         G 
sandiwara apa yang telah kau lakukan kepadaku 

[chorus] 
           C      D          G 
jujurlah sayang aku tak mengapa 
        Am    D             G 
biar semua jelas telah berbeda 
         C      D            Em 
jika nanti aku yang harus pergi 
       Am   D           G 
kuterima walau sakit hati 

          G            D/F#   Em 
mungkin ini jalan yang engkau mau 
         Am                     D 
mungkin ini jalan yang kauinginkan 
          G          D/F#     Em 
kaudengannya seakan ku tak tahu 
          Am  G C 
sandiwara apa  
          Am  G C 
ceritanya apa 
       D 
aku tahu 

[chorus] 
           C      D          G 
jujurlah sayang aku tak mengapa 
        Am    D             G 
biar semua jelas telah berbeda 
         C      D            Em 
jika nanti aku yang harus pergi 
       Am   D           G 
kuterima walau sakit hati 

[solo] C D G 
       Am D G 

[chorus] 
           C      D          G 
jujurlah sayang aku tak mengapa 
        Am    D             G 
biar semua jelas telah berbeda 
         C      D         ][poiuytrewq              Em 
jika nanti aku yang harus pergi 
       Am   D           G 
kuterima walau sakit hati 
       Am   D           G 
kuterima walau sakit hati


Senin, 01 Desember 2014

ANEKDOT
Anekdot adalah cerita singkat berdasarkan pengalaman pribadi yang terkesan lucu. Walaupun lucu, anekdot tidak ditujukan untuk lelucon karena di dalamnya ada tersirat atau tersurat menyampaikan sebuah renungan tentang kebenaran sebuah realita.
Struktur anekdot meliputi:
1.       Realita, abstraksi: adalah gambaran umum yang dapat diterima kebenarannya sebagai paragraf pengantar pada masalah.
2.       Pengenalan, orientasi: adalah latar belakang peristiwa.
3.       Konflik, krisis: adalah permasalahan yang terjadi yang dialami tokoh cerita, biasanya disertai percakapan agar lebih hidup.
4.       Reaksi, resolusi: adalah bagian cerita yang berupa dampak dari konflik atau krisis.
5.       Koda: adalah simpulan atau penguatan bisa tersirat atau tersurat berisi pesan yang ingin disampaikan.
Contoh:
ULANGAN IPA
Mencontek bagi beberapa siswa sudah tidak lagi dianggap prilaku yang tidak wajar. Mereka umumnya sudah menyiapkan contekan dengan modus yang tidak dapat dideteksi oleh guru atau pengawas ruang.  Prilaku curang ini tentu saja sering terjadi di sekitar kita, khususnya dalam dunia pendidikan. Seperti yang saya alami beberapa tahun yang lalu.
Anekdot itu indah
Pada suatu hari saat ulangan IPA, saya sudah sejak malam menyiapkan contekan pada sehelai kertas dengan tulisan yang sekecil mungkin agar dalam kertas sedikit dapat memuat informasi sebanyak mungkin. Contekan itu saya selipkan pada tali jam tangan yang saya pinjam dari Ayah. Maklum saya tidak pernah pakai jam tangan. Ulangan pun berlangsung.
Sepuluh menit pertama kelas hening, seluruh siswa terpaku pada naskah soal. Namun pada menit-menit berikutnya banyak siswa yang mulai gelisah karena soal yang mudah sudah selesai dikerjakan. Itupun hanya beberapa soal saja. Sisanya benar-benar buntu. Maka akal curang saya mulai bekerja. Saya perhatikan pengawas duduk di depan dengan menahan kantuk. Ini kesempatan! Pikir saya. Lalu dibukanya dengan hati-hati “bekal” yang saya selipkan pada tali jam tangan. Secarik kertas sudah di genggaman. Lalu kubuka. Binggo! Aku tersenyum melihat tulisan yang diperlukan ada pada kertas tersebut.
Bajuku ada yang narik dari belakang. Ini pasti si Rukman minta jawaban.
“Sebentar!” bisikku sambil terus membaca contekan.
Tak lama terasa bahuku dijawil dari belakang. Rupanya si Rukman tidak sabaran.
“Nih, kamu baca sendiri!” bisik saya sambil mengulurkan tangan ke belakang secara perlahan agar tidak menarik perhatian pengawas.
Lalu sebuah tangan menyambut uluran tangan saya dari belakang. Tetapi yang dipegang bukan kertas contekannya, melainkan pergelangan tangan. Saya kaget, lalu kutoleh.
Oh, My God … sebuah wajah dingin berkacamata menatap tajam tidak jauh dari ubun-ubun saya. Rupanya pengawas tanpa setahu saya sudah berdiri di belakang saya. Bisa jadi sejak tadi. Saya tidak perlu menceritakan sanksi apa yang saya terima. Pokoknya saya saat itu dianggap batal ulangan. Karuan saja, saya ditertawakan teman-teman sekelas. Sungguh betapa malunya saya.
Sejak kejadian itu saya benar-benar kapok melakukan kecurangan seperti itu. Memang, selain prilaku itu merupakan perbuatan curang, dan sama saja dengan membodohi diri sendiri, juga perbuatan itu termasuk dosa di mata Tuhan.


Jakarta, 10 November 2014
U. Nurochmat

Minggu, 23 November 2014

Anda memerlukan kisi-kisi UAS Bahasa Indonesia kelas IX? Ini saya sediakan untuk Anda. Semoga bermanfaat.



Sabtu, 18 Oktober 2014

31. Chairil Anwar

DERAI DERAI CEMARA

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah.


32. Abdul Hadi WM

RAMA-RAMA

rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat
meraba cahaya
terbanglah jangan ke bunga, tapi ke laut
menjelmalah kembang di karang

rama-rama, aku ingin rasamu yang hangat
di rambutmu jari-jari matahari yang dingin
kadang mengembuni mata, kadang pikiran
melimpahinya dengan salju dan hutan yang lebat.


33. Joko Pinurbo

LUKISAN BERWARNA
 
untuk Andreas dan Dorothea

Hujan beratus warna
tumpah di hamparan kanvas senja.

Pohon-pohon bersorak gembira
sebab dari ranting-rantingnya yang sakit
kuncup jua daun-daun beratus warna.

Burung-burung bernyanyi riang,
terbang riuh dari dahan ke dahan
dengan sayap beratus warna.

Dua malaikat kecil menganyam cahaya,
membentangkan bianglala
di bawah langit beratus warna.

Airmata beratus warna kautumpahkan
ke celah-celah sunyi
yang belum sempat tersentuh warna.


34. U. Nurochmat



TAMU DARI KOTA

Selamat sore ... Senja!
Sebentar aku seka dulu keringatku
Sudah lama menunggu?
Bawa kabar apa dari kota?
Bagaimana jalan rayanya masih hiruk pikuk
oleh kedustaan dan pura-pura?
Sudah kau apakan bibit-bibit tabulapot
yang kuserahkan?
... Atau jangan-jangan
sudah mati kena hama glamor pergaulan
Lalu kau ganti dengan pohon plastik
yang lebih rindang
Maaf ... aku terus bertanya
ga terasa malam telah tiba..

35. U. Nurochmat


TAK LAGI

Kakek tua penjaga masa
Kerut kulit wajahmu
Menyusun luka duka
Memeluk suka cita

Kakek tua penunggu waktu
Kini tinggallah desahmu
Tak lagi bisa berkarya
Memikul dagangan,
Mencangkul ladang

O, masa lalumu telah berlalu
Tinggalkan kenangan manis dan tangis
Maka pupuslah sesalmu
Tak ada guna kau ratapi.

36. Sapardi Joko Damono

PADA SUATU HARI NANTI

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari.