Selamat Datang

Selasa, 28 September 2010

SKETSA

Peron stasiun masih lengang. Beberapa orang tertidur ada yang di atas bangku, ada yang dekat pintu kamar mandi bertatakan koran. Kereta yang tadi Bu Minah tumpangi sudah berlalu meninggalkan tiang-tiang listrik kesepian. Bu Minah sejenak termangu.
"Ayo, Bu, aku ngantuk!"Iwan menarik-narik lengan ibunya.
"Ih, kenapa sih?"Bu Minah kesal karena bajunya nyaris sobek,"Tar dulu, Ibu takut bapakmu belum bangun!"katanya memberitahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Lapar, Bu!"anak berumur 7 tahun itu merengek lagi."
Kali ini Bu Minah tidak jengel atas keluhan anaknya itu karena dia menyadari sejak tadi berangkat anaknya baru diberi tahu dan telur asin.
Seorang lelaki yang tidur menyandar di tembok peron terbangun. Menguap, menggeliat! Lalu menoleh ke kiri kanan.
"Mau kemana, Bu?"tanyanya sambil memperbaiki jaketnya yang terangsur ke atas.
Bu Minah menoleh agak sedikit kaget. Hatinya mulai berdebar saat lelaki itu menghampirinya. Bu Minah mengedar pandang ke segala arah untuk memastikan ada orang lain yang bisa menolongnya bila terjadi apa-apa. Dia masih ingat nasehat Mbak Rusti bahwa di Jakarta banyak penjahat.
Matanya tidak menemukan orang yang terjaga, malah suara radio dari hape petugas di ruang loket pun sudah lama tidak terdengar lagi.
"Ke mana, Bu?"tanya lelaki itu setelah berdiri tidak jauh dari hadapan Bu Minah. Bau mulut menyeruak. Iwan merapat ke paha ibunya sambil memegangi ujung tangan ibunya.
"Anu, Mas, saya mau ke rumah suami saya di Tanah Abang,"Bu Minah gugup.
"Sama siapa? Ini anaknya? Itu bawa apa?"lelaki itu beruntun menanyakan.
"Iya ini anak saya, dan ini pakaian kami,"Bu Minah menarik tas pakaiannya yang ritsletingnya sudah dicantum dengan peniti sehingga beberapa potong pakaiannya tampak mengintip ke luar.
Lelaki itu berlalu,"Naik bajaj aja tuh!"katanya sambil menunjukkannya dengan mulutnya.
Aku yang sejak kereta berhenti memperhatikan setiap penumpang yang turun segera memberi isyarat dan lelaki itu mengerti isyaratku dan berbelok arah langkahnya menjadi ke arahku yang duduk di kios rokok yang tutup.
"Kere, bos!"kata lelaki itu.
"Makanya jangan molor melulu! tadi ada yang borju, lo malah ngorok!"
"Iya, sori, Bos!"katanya dan kusambut dengan hembusan asap rokokku ke mukanya.

oleh: U. Nurochmat

Anak-anak kelas IX, tolong dicopas sketsa ini, dan analisislah unsur intrinsiknya!